Celebrity
Balawan, Jazz & Tradisi

1 Oct 2011

Ada banyak pemain gitar yang meramaikan dunia musik kita, tapi I Wayan Balawan (37) adalah gitaris yang berbeda. Bukan hanya soal kepiawaian jemarinya yang mengolah senar bak gemulai seorang penari untuk menghasilkan melodi tak terbayangkan, ia juga istimewa oleh cita-citanya agar gamelan Bali tak tertinggal oleh zaman yang berlari cepat ini.

Untuk menjaga tradisi itulah, musisi jazz etnik ini mendirikan Balawan & Batuan Ethnic Fusion. Ia tak pernah ragu untuk menolak bermain di ranah musik pop, aliran yang mungkin menjanjikan kepopuleran dan uang dengan jalan instan.

Karakter gamelan Bali yang rancak berpadu megah dengan raungan gitar Balawan. Penonton yang menyaksikan pertunjukkannya terpukau oleh kolaborasi manis musik etnik dan instrumen gitar yang modern.
   
Pertunjukan yang dilakukan oleh Balawan hanya menjadi secuil bukti bahwa ia adalah maestro di bidangnya: ethnic jazz. Sebuah pencapaian yang ia rintis sejak pulang dari Sydney tahun 1997, setelah lima tahun tinggal di kota tersebut. Tiga tahun memperdalam jazz di Australian Institute of Music, dilanjutkan menjadi dosen di almamaternya setelah lulus, ia lantas aktif tampil di panggung-panggung pertunjukan di Negeri Kanguru itu.

Bukan hal mudah untuk eksis di negeri orang. Pasti Balawan memiliki ciri khas sehingga terus diminati penonton. Sebagai putra Bali, musik gamelan ibarat sudah mengalir deras dalam setiap pembuluh nadinya. Layaknya anak-anak Pulau Dewata pada umumnya, Balawan kecil sudah bergaul rapat dengan musik tradisional tersebut. “Musik sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari orang Bali. Dari lahir, menikah, meninggal, ada peran musik dalam setiap upacaranya,” jelasnya. Karena itu, kecintaannya pada gamelan Bali memang tak terbantahkan.
   
Bukan sok idealis bila Balawan punya cita-cita untuk menyelamatkan gamelan Bali agar tak punah ditelan zaman. “Saya ingin anak muda zaman sekarang tetap aware dengan kekayaan tradisi yang kita miliki. Saya ingin anak-anak muda tetap kenal dengan budaya dan tradisinya,” ujarnya, dengan suara lirih.
   
Balawan sungguh tak ingin bila nantinya gamelan hanya tersimpan rapi di museum, atau hanya dimainkan di lobi-lobi hotel. Atau, hanya sekadar atraksi, tapi tak menyentuh akar kehidupan sehari-hari. Bahkan, jadi senasib dengan gamelan Jawa, yang mulai ditinggalkan orang muda. Walaupun, Balawan mengakui, memang tak setara untuk membandingkan kedua jenis musik tradisional ini. Karena, gamelan Bali menyatu dalam budaya dan tradisi masyarakat sehari-hari, sementara gamelan Jawa berperan sebagai bagian dari pertunjukan dan hiburan masyarakat.
   
Pria kelahiran 9 September 1973 ini tahu persis, arus besar yang berkembang saat ini adalah menepikan yang berbau tradisi. Terlebih anak-anak mudanya. Karena itu, ia merasa harus punya ramuan tepat untuk menyasar target market-nya. Dari situlah muncul ide untuk mengolaborasikan gamelan dengan instrumen musik modern, dalam hal ini gitar. “Agar musiknya nggak terkesan tradisional banget,” katanya.
   
Tampaknya, strategi itu jitu. Karena, meski baru memiliki satu album yang dirilis tahun 1999, gloBALIsm, sampai sekarang album itu masih diproduksi karena peminatnya tetap ada. “Album-album lagu pop, sekali meledak bisa laku sampai jutaan kopi. Namun, peminatnya juga sesaat saja, yaitu ketika album itu sedang di puncak. Setelah lewat masanya, pasti sedikit orang yang membelinya,” katanya.

Yoseptin Pratiwi
Fotografer: Mario Andi Supria