Celebrity
Anne Hathaway: Metamorfosis si Putri Manja

16 Dec 2015


Membintangi 26 film dalam satu dekade adalah catatan gemilang bagi aktris mana pun. Wanita bernama lengkap Anne Jacqueline Hathaway (32) ini membuktikan bahwa eksistensinya dalam industri yang kental dengan kompetisi sengit  ini   bisa sampai ke jajaran A-listed. Namun, ada konsekuensi dari kesuksesannya: sindiran, kecaman keras, serta komentar negatif. Bagaimana ia menghadapi semuanya?
 
Mungkin banyak orang yang sepakat bahwa perannya sebagai gadis lugu bernama Mia Thermopolis, seorang putri kerajaan  dalam film The Princess Diary (2001), adalah momen yang tepat Anne masuk ke dunia sinema internasional. Buktinya, namanya begitu terkenal berkat peran tersebut. Bahkan, belasan tahun setelah film tersebut diputar di bioskop, peran tersebut masih melekat pada dirinya.

Ia pun menjadi idola para gadis yang senang dengan cerita-cerita romantis layaknya dongeng Cinderella. Setelahnya, beberapa film yang ia pilih tak jauh dari kesan gadis manis dan manja, seperti dalam Ella Enchanted, tahun 2004.
Tapi, bagi seorang wanita dengan imajinasi liar akan karakter menantang, bertahan dengan citra diri yang kental dengan kesan manis bukanlah opsi wanita yang mulai berakting pada tahun 1999 ini. Karenanya, ia mulai menenggelamkan diri dalam peran-peran di luar zona nyamannya. Kemampuan aktingnya  makin terlihat saat ia memerankan Andrea Sachs dalam The Devil Wears Prada (2006).
   
Kedewasaannya memerankan sebuah karakter ‘Oscar material’ juga dibuktikan ketika memerankan sosok wanita penjaja seks malang bernama Fantine dalam drama musikal Les Miserables (2012). Tak tanggung-tanggung, berkat peran tersebut untuk pertama kalinya ia mendapatkan penghargaan bergengsi sebagai Aktris Pendukung Terbaik dalam ajang Academy Awards 2013. Di film yang dibintangi juga oleh Hugh Jackman dan Russel Crowe ini, Anne turut menyanyikan soundtrack film, berjudul I Dreamed a Dream.

Meski telah memiliki jam terbang tinggi dan masuk jajaran aktris papan atas Hollywood, nyatanya ketika   memasuki usia 30, Anne diliputi kekhawatiran. Wanita kelahiran Brooklyn, New York, 12 November 1982, ini takut popularitasnya di industri perfilman raksasa Hollywood akan terancam. Pasalnya, ia merasa kuantitas tawaran peran untuknya kian berkurang. Di usia 20-an, dalam satu tahun ia bisa terlibat dalam empat film sekaligus. Tapi kini, mendapatkan satu tawaran film saja dalam periode satu tahun adalah hal yang ia syukuri.
   
“Saya tidak bisa protes tentang hal itu, karena saya pun dulu pernah diuntungkan saat masih di usia tersebut,” ungkap Anne, yang merasa di awal kariernya ia juga menyingkirkan aktris-aktris senior dengan  mendapatkan peran yang lebih besar. Ia  sangat memahami kondisi ini. Karena kenyataannya, pasar sinema dunia memang lebih tertarik pada aktris-aktris muda.

Kendati demikian, wanita yang menyukai olahraga baseball ini tak pernah menyalahkan siapa pun. Ia justru berusaha lebih percaya diri bahwa di usianya yang kian matang ia bebas melakukan apa pun   tanpa harus khawatir dengan stigma yang ditujukan kepadanya. Buktinya, di usia 33 tahun ia telah memerankan berbagai macam karakter. Layaknya seekor bunglon, Anne piawai mendalami masing-masing karakter tersebut. Menjadi seorang putri yang manja, wanita super bertopeng yang kuat, hingga berperan sebagai pekerja seks komersial. Transformasi aktingnya pada  tiap film dengan genre yang berbeda tersebut telah mencuri perhatian banyak orang. Salah satunya adalah sutradara Nancy Meyers yang terpikat oleh Anne ketika melakukan audisi untuk film The Intern.

“Memang citra yang melekat pada diri Anne adalah seorang putri yang manis seperti dalam film The Princess Diary, tapi itu 10 tahun yang lalu. Transformasi aktingnya pada peran-peran yang tak pernah terbayangkan justru membuat saya ingin Anne berada di film ini,” papar Nancy. Masih kata Nancy, salah satu alasan Anne terpilih sebagai pemeran utama film tersebut karena ia adalah aktris yang kuat, pekerja keras, passionate, manis, dan jujur.

Dalam film The Intern, Anne menjadi seorang wanita ambisius dan perfeksionis bernama Jules Ostin, CEO perusahaan fashion online. Film ini menjadi sangat menarik ketika seorang duda berusia 70 tahun yang diperankan oleh Robert De Niro, memutuskan bekerja magang di perusahaan tersebut. Jarak usia yang terpaut jauh antara bos wanita muda dan seorang karyawan magang tua, menyajikan intrik cerita tak terduga yang mengundang tawa. Namun di balik itu, persahabatan yang terjalin antara dua insan berbeda generasi menjadi bumbu manis cerita komedi ini. (f)



 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?