Travel
Aneka Rona Pecinan Semarang

20 Mar 2015


Saya, Dani Artana, merasa beruntung bisa menjejakkan kaki dan berjalan dengan sedikit tersesat selama seharian di pecinan Semarang, salah satu kantong komunitas etnis Tionghoa terbesar di Indonesia. Berbagai jejak budayanya seperti tak lekang dimakan usia. Menikmati ronanya, mulai dari kelenteng megah di depan Kali Semarang, Tay Kak Sie, kemudian mencicipi gurihnya lunpia Semarang di Gang Lombok, hingga bersua dengan engkong Ong Bing Hok di rumah arwah.
Kelenteng Tay Kak Sie
Sudah 10 menit, saya duduk di bangku semen yang berada di bawah beberapa pigura besar yang memajang jadwal sembahyang dan agenda kegiatan. Udara Semarang menjelang siang berhasil menciptakan beberapa bercak keringat di kaus yang saya kenakan. Di pelataran, saya mengatur napas, setelah beberapa menit sebelumnya usaha pencarian alamat Kelenteng Tay Kak Sie berbuah nyasar ke Pasar Gang Baru. Dengan sangat hati-hati saya selonjorkan kaki di tegel merah yang baru saja dipel dua orang penjaga. Semerbak hio menjalar dari rombongan ibu-ibu yang datang berdoa.

Konon, sejak abad ke-7 bangsa Cina sudah menapaki Kepulauan Indonesia, mengarungi Laut Cina Selatan, kemudian mengempas ombak di perairan sebelah utara Indonesia. Konsentrasinya adalah Asia Tenggara. Berniaga menjadi tujuan utama bangsa Cina untuk hijrah dari tanahnya. Melampaui berbagai zaman, dari masa kolonialisme hingga kini, kehidupan bangsa Cina sudah mengakar, dalam membangun permukiman, kawin, dan hidup rukun dengan orang lokal, hingga melanggengkan adat istiadat aslinya di Indonesia.

Ada 9 kelenteng yang mengitari pecinan Semarang, Tay Kak Sie menjadi induknya. Bukan lantaran paling tua atau paling besar struktur bangunannya, namun karena kelenteng yang didirikan pada tahun 1746 ini memiliki dewa-dewi terbanyak dibanding kelenteng lainnya. Agenda kesenian khas Tionghoa sering pula dihelat di halaman Kelenteng Tay Kak Sie pada momen-momen tertentu, sebut saja pertunjukan seni drama dan wayang potehi, atau paduan suara Gentrika (Genta Tri Pusaka) hingga Yangkhim.

Sempat terlintas di angan betapa cantiknya pertunjukan wayang potehi di malam hari yang diiringi musik tradisional Cina berpadu dengan keunikan atap kelenteng model Ngang Shan yang berbentuk pelana kuda. Sementara dominasi warna merah di tiang-tiang kayu atau dinding menambah aura positif.

Semula saya sempat dibuat heran oleh kapal besar yang terlihat terdampar di depan pelataran  kelenteng, arus kali Semarang yang tenang tidak membawanya hanyut ke mana-mana. Warga sekitar menyebutnya sebagai replika kapal Laksamana Cheng Ho. Belakangan saya ketahui, replika kapal tersebut dibangun untuk mengenang kebesaran pemimpin armada kelautan dari Cina yang bernama lain Kongco Sam Poo Tay Djien itu, walaupun nyatanya dia adalah seorang muslim.

Hari pendaratan Cheng Ho di tanah air pada abad ke-15 juga diperingati secara meriah  tiap bulan keenam tanggal ke-29 tahun Imlek dengan dilangsungkannya arak-arakan menggunakan berbagai macam atribut dan riasan, mulai dari Kelenteng Tay Kak Sie hingga berakhir di Kelenteng Sam Poo Kong.

Hitam bekas asap hio yang mengerak di atap Kelenteng Tay Kak Sie dan meja-meja kayu seperti ingin mengisahkan sebuah babak kelam pecinan masa lampau, di mana orang-orang Tionghoa dahulu juga turut memberontak kepada kaum kompeni Belanda pada tahun 1743. Mereka dipindahkan dari wilayah Gedong Batu ke kawasan yang sekarang, sebab berdekatan dengan tangsi militer milik Belanda untuk mempermudah pengawasan. Kini, setelah ratusan tahun terlewati, pecinan Semarang hidup makin dinamis, kelenteng-kelenteng yang bertebaran pun berdiri megah sebagai pusat peribadatan dan kebudayaan.

Sedapnya Lunpia Gang Lombok
Pendaratan etnis Tionghoa di Semarang tak hanya meninggalkan jejak arsitektur dan budaya semata, aneka hidangan khasnya menjadikan daerah pecinan sebagai sebuah surga bagi para pencinta kuliner. Apalagi jika aroma asli bangsa Cina dipadukan dengan kekayaan rempah tanah air, pasti sulit untuk menepis aromanya. Seperti kebanyakan makanan unik yang lahir dari kawin silang 2 budaya berlainan yang disebut kuliner peranakan, lunpia pun memiliki cerita tersendiri. Cita rasa uniknya berawal dari seseorang warga Tionghoa yang menikah dengan orang Indonesia, kemudian menetap di Semarang.

Sebenarnya, sudah lama saya penasaran dengan godaan lunpia legendaris ini sejak pertama kali membaca kisahnya di buku panduan kuliner seputar Jawa Tengah yang ditulis Fajar Ayuningsih, seorang food editor di beberapa majalah nasional, beberapa tahun silam.
Buku kecil yang dipenuhi foto indah menggugah selera itu berjudul  Menikmati Kelezatan Makanan Yogyakarta, Semarang & Magelang. Saat perut mulai ramai, saya segera beranjak menuju warung lunpia di Gang Lombok yang jaraknya hanya beberapa langkah kaki dari Kelenteng Tay Kak Sie.

Memang, tampilan warung yang buka mulai pukul 8 pagi hingga 4 sore ini tampak sederhana, namun ramainya bukan main. Ada 2 meja panjang di sebelah penggorengan, meja lainnya ada di bagian luar dekat etalase. Tiga orang karyawan hilir mudik di antara pengunjung yang mengantre. Saya masih berpikir akan memesan apa, lunpia basah atau kering. Sementara bau sedap yang menguar dari penggorengan yang dipenuhi rebung dan ayam suir membuat pikiran saya malah kalut.

Akhirnya, pilihan jatuh pada lunpia basah! Sepotong lunpia dihargai Rp12.000. Ada kemasan menarik yang terbuat dari anyaman bambu jika pengunjung ingin membawa pulang lunpia Gang Lombok sebagai oleh-oleh.

Belum 5 menit berlalu, pesanan lunpia basah saya mendarat di meja. Isinya yang padat terlihat dari kulit tipis yang diiris menjadi 4 bagian. Saus manis kental turut melengkapi bersama beberapa buah cabai rawit dan beberapa butir bawang merah muda. Rebung manisnya terasa seimbang dengan ebi, ayam, dan telur yang terasa gurih. Orisinalitas aroma lunpia Gang Lombok memang membuktikan betapa keturunan ketiga, Siem Swie Kiem, dengan teguh menjaga kualitas rasa yang telah menjadikannya legenda selama bertahun-tahun.

      Sebenarnya, tidak hanya suguhan lunpia yang ada di gang yang dulunya merupakan kebun lombok (cabai) ini. Kedai mi Siang Kie yang sudah berdiri sejak tahun ‘50-an juga patut didatangi. Letaknya berada di sebelah kiri warung lunpia. Jika Anda seorang muslim yang menghindari makanan non-halal,  lebih baik bertanya dulu kepada juru masak atau penjaga warung, karena ada beberapa menu yang menggunakan campuran daging babi.
Jika haus, kedai es shanghai yang tak jauh dari kedua warung sebelumnya patut disambangi. Di bawah es serut menggunung yang disiram sirop merah terdapat komposisi kolang-kaling, cincau hitam, dan pepaya. 

Bersua di Rumah Arwah
Hiruk pikuk pasar basah di sekitar Gang Pinggir sudah berkurang sejak matahari meninggi. Para pedagang buah dan sembako mulai beres-beres dan memanggul dagangannya pulang. Beberapa kios kecil yang menjual pakaian khas Imlek masih terlihat memajang dagangannya.

         Suatu siang, di akhir pekan itu, sebuah studio sederhana di depan Kelenteng Hoo Hok Bio dipenuhi 4 orang yang sedang sibuk dengan lem, kertas, dan bambu.
“Silakan, masuk saja, jangan sungkan!” sapa seorang bapak beretnis Tionghoa yang tak muda lagi, tanpa mengalihkan pandangan dari kesibukan di meja kayunya. Hanya suara kegiatan melipat kertas dan memotong bambu yang mendominasi di ruangan itu, ditingkahi suara pejalan kaki dan pedagang makanan keliling yang melintas di Gang Cilik yang berada di depan studio.

“Saya lagi bikin lian, 2 orang di dalam lagi mengerjakan rumah besar yang masih setengah jadi. Nanti dibakar saat upacara memperingati kematian saudara atau keluarga,” jawab seorang pegawai, yang dahinya  dibanjiri keringat.

Sebelumnya saya bertanya tentang apa yang sedang mereka buat. Ternyata, saya sedang berada di dalam studio pembuatan rumah arwah. Yang dibuat adalah aneka ragam perlengkapan yang digunakan saat upacara peringatan meninggalnya seseorang. Tempat ini memang tidak ada dalam itinerary jalan kaki menelusuri pecinan Semarang hari itu, namun ternyata niat untuk get lost membuahkan rasa penasaran pada rumah arwah.

Adegan membakar miniatur rumah dan boneka yang terbuat dari bambu berselimut kertas manila atau karton berwarna-warni memang sering saya saksikan, namun hanya di TV, di film laga, atau drama Cina zaman dulu. Hari itu saya berkesempatan untuk menengok pembuatannya secara langsung.

Beberapa menit kemudian saya sudah berkenalan dan mengobrol banyak dengan Engkong Ong Bing Hok, orang yang pertama kali menyapa saya di depan tempat kerjanya. Kacamata minusnya dilepas saat berbicara, sementara warna putih belum mendominasi rambutnya, walau usianya sudah menginjak 65 tahun.

“Orang-orang pesan miniatur rumah di sini, untuk bekal keluarganya yang sudah meninggal, supaya tenang di akhirat.” Engkong, begitu karyawan memanggilnya, membuka percakapan sambil mengedarkan pandang ke sekeliling. Ternyata banyak pesanan yang belum jadi. Ada yang tergantung di dinding, ada pula yang masih tersimpan di gudang sebelah kamar.  Engkong dan ketiga pekerjanya biasa membuat rumah-rumahan, lian, too wi, teng-tengan, klenteng, jai, alat sembahyang, dan lain-lain. Sebuah pesanan bisa selesai dalam hitungan hari hingga bilangan bulan sesuai ukuran dan kerumitan yang diminta.

Adat dan kebiasaan membakar rumah arwah dipercaya oleh warga Tionghoa,   umat Kong Hu Cu khususnya, untuk menghormati leluhurnya. Rumah kertas bertingkat, pakaian, uang, replika pembantu, hingga mobil kecil turut dikirim beserta doa. Mereka percaya, di akhirat, keluarganya yang telah meninggal juga masih membutuhkan peralatan dan perabotan seperti ketika mereka masih hidup.

Engkong Bing Hok pun bercerita, pernah ada seorang langganannya   memesan sebuah topi kecil. Menurut pelanggannya itu, setelah upacara pembakaran rumah arwah dilakukan, dalam mimpinya itu ia  didatangi leluhurnya yang telah meninggal. Rumah, mobil, pakaian, semuanya sudah sampai di alam baka, namun leluhurnya meminta topinya yang ketinggalan. Akhirnya, dengan cepat  satu topi itu dibuat oleh Engkong Bing Hok, kemudian diserahkan untuk dilakukan upacara pembakaran lagi. Setelah itu,  pelanggannya tak pernah bermimpi didatangi leluhurnya lagi. “Percaya enggak percaya, bukan?” kata Engkong Bing Hok sambil tertawa.

Di usianya yang sudah senja ini Bing Hok sering merasa resah, siapa yang bisa menggantikannya dalam seni pembuatan rumah arwah nanti? Generasi keempat pembuat rumah arwah ini mempunyai 2  anak perempuan  dan seorang anak laki-laki yang sudah bekerja di bidang kuliner. Menurutnya, tidak sembarang orang bisa membuat rumah arwah. Karena, selain cita rasa yang tinggi terhadap seni, keuletan, dan kerja keras, seorang pembuat rumah arwah harus memiliki kepedulian yang tinggi pada keluarga yang baru saja berduka.
“Ya, semoga saja ada yang bisa menjadi penerus setelah saya meninggal nanti,” ucap Engkong Ong Bing Hok sambil membersihkan jemarinya dari sisa lengket lem kertas.(f)




 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?