Trending Topic
Ini Alasannya Prinsip YOLO Mudah Diterima di Indonesia

25 Jan 2017


Ilustrasi: Petty Galuh
 
Popularitas YOLO berawal pada akhir tahun 2011, saat rapper Drake dan Lil Wayne meluncurkan single berjudul The Motto di Amerika Serikat. Berdurasi 3,03 menit, lagu itu beberapa kali mengulang kata YOLO, seperti mantra untuk menjalani hidup tanpa penyesalan. Mantra itu seakan mengaburkan sekat antara hidup menggila seperti tidak ada hari esok atau hidup dengan memaksimalkan potensi diri seperti tidak ada hari esok.

Psikolog Tara de Thouars, B.A., M. Psi. dari Sanatorium Dharmawangsa mengatakan, sekat mana pun yang dipilih, wajar saja jika YOLO meninggalkan dampak cukup mendalam pada orang muda. Sebab, manusia pada rentang usia 18-35 tahun memiliki tiga kebutuhan penting.

“Jati diri, karier, dan support system. Ketiganya saling terkait untuk membangun makna pada diri seseorang dan merupakan unsur yang saling menguatkan manusia pada usia produktif. YOLO merupakan bagian dari identitas itu, membuat generasi millennial merasa menjadi bagian penting dari generasinya,” papar Tara.

Menurut Sosiolog Daisy Indira Yasmine, S.Sos., M.Soc.Sci dari Universitas Indonesia, prinsip YOLO mudah diterima di Indonesia karena didukung oleh iklim sosial politik yang demokratis. “Ditambah lagi, negara kira memiliki aspek budaya komunal yang kental dalam budaya Timur. Aspek budaya komunal, pada satu sisi sangat mendukung jejaring dan keterhubungan antarmanusia, khususnya netizen, yang kemudian membentuk keterbukaan.”

Meski begitu, keterbukaan yang membuka keran informasi dan pilihan sebaiknya tidak ditelan begitu saja agar dapat meminimalkan risiko kelelahan fisik dan mental sebelum usia 30 tahun, seperti yang ditemukan hasil riset Melanie Shreffler, Senior Insight Director lembaga riset Cassandra Report di Amerika Serikat.

Generasi millennial harus mengenal diri sendiri. “Bukan hanya dari sisi potensi, tetapi juga kelemahan diri. Dengan begitu, para millennial akan bisa menentukan pilihan yang lebih tepat, sehingga kesempatan untuk sukses jadi lebih besar,” saran Tara.

Setelah itu mereka harus berusaha membangun daya tahan agar tetap tekun dan bisa bertahan dalam keadaan sesulit apa pun. Terdengar mudah, ya? Tapi, sebenarnya prosesnya tidak sederhana. “Segala kemudahan akses dan informasi saat ini cenderung membentuk pribadi yang impulsif. Sekarang mau coba ini, besok mau coba itu. Secara tidak langsung, daya tahan terhadap satu hal umumnya menjadi lebih rendah dari generasi sebelumnya,” ungkap Tara.

Untuk itu, millennial juga perlu lebih memaknai passion. Passion, kata yang disebut-sebut sebagai modal untuk mencapai tujuan hidup, ternyata tidak cukup. Menurut pengamat gaya hidup dan founder OMG! Consulting, Yoris Sebastian, selain passion, juga harus memiliki ikigai yang dalam istilah bahasa Jepang berarti ‘alasan untuk bangun pagi tiap hari’. “Untuk menemukannya, ada 4 pertanyaan yang ditujukan pada diri sendiri. Hal apa yang kita suka? Hal apa yang kita bisa? Apakah dunia membutuhkannya? Apakah hal itu nanti dapat menghasilkan uang?” papar Yoris.

Hari esok memang misteri. Namun, tidak berarti bisa dijadikan alasan itu untuk terus tancap gas mengeksploitasi gaya hidup, daripada mengeksplorasi makna hidup dan identifikasi diri yang ajeg. Bagaimanapun, usia muda adalah sementara dan hidup hanya berputar satu kali. You only live once, you only die once. (f)

Baca Juga:


Topic

#millennialmanual

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?