Profile
Putri Intan Permatasari, Merintis Keroncong Rasa Muda

11 Oct 2018


Foto: Dok. Pribadi
 
Dari irama langgam sampai versi electronic dance music (EDM), keroncong menawarkan rasa kekinian yang menarik selera musik anak muda zaman sekarang. Bukan hal yang mudah. Wanita yang lebih dikenal dengan nama Intan Soekotjo (27) ini harus berjuang ekstra membangun citra keroncong yang identik dengan generasi tua menjadi selera muda.
 
“Tantangan saya adalah bagaimana mengembangkan musik keroncong menjadi bervariasi, tapi tetap melekat pada kaidah atau pakem dan cita rasa aslinya,” ungkap Intan, saat dijumpai di salon miliknya, Hair Growth. Uniknya, tantangan pertama justru datang dari ibunya sendiri, salah satu maestro keroncong Indonesia, Soendari Soekotjo. Pahit manis perjuangan Soendari untuk tetap menghidupkan seni keroncong di tanah air sempat membuat Soendari tak ingin putrinya itu merasakan beratnya berjuang di jalur musik yang ‘sepi’.
 
“Awalnya Ibu melarang saya. Namun, akhirnya luluh juga melihat kesungguhan saya menekuni seni keroncong. ‘Kalau ini memang passion kamu, tunjukkan kepada Ibu dan dunia luar tentang musik keroncong', begitu pesan Ibu,” ujar Intan, tentang percakapan yang terjadi setelah ia  merampungkan kuliahnya di Public Relations London School of Public Relations (LSPR).
 
Tidak mudah menguasai keroncong, musik dengan instrumen dawai, flute, dan vokal yang memiliki cengkok khusus ini. Banyak memperhatikan ibunya, Intan secara autodidak terus mengasah diri menguasai keroncong klasik, seperti langgam yang beritme lambat dan stambul yang ketukannya cepat. “Melihat kesungguhan saya, akhirnya Ibu serius melatih saya,” lanjutnya.
 
Intan berhasil membuktikan janjinya kepada sang ibu. Tiga tahun yang lalu ia membawa musik keroncong hingga ke Korea Utara. Baru-baru ini ia juga melanggamkannya di depan Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Muhammad, saat jamuan kenegaraan di Istana Bogor. Tidak banyak yang tahu bahwa dalam sejarah Indonesia, musik keroncong menjadi salah satu alat diplomasi yang cukup ampuh.
 
“Presiden Soekarno yang pertama kali membuka jalur diplomasi dengan Korea Utara melalui musik keroncong dan anggrek bulan. Makanya, waktu mendapat undangan untuk tampil di April Spring Friendship Festival di Pyongyang, saya langsung bilang, ‘Ya!’” kisahnya, tentang negara yang dipimpin oleh Kim Jong-un itu.
 
Musik keroncong sempat mencapai kejayaannya pada tahun 1980-an dengan diselenggarakannya berbagai kejuaran menyanyi keroncong. Beberapa di antaranya yang diadakan oleh stasiun RRI dan TVRI. Sayangnya, seiring dengan makin derasnya paparan berbagai genre musik dari dunia Barat, musik keroncong makin tergerus.
 
Mengambil momen 40 tahun Soendari Soekotjo berkarya pada tahun 2015, Intan dan ibunya menginisiasi YAKIN (Yayasan Keroncong Indonesia). Melalui yayasan ini, mereka mengajak para musikus muda untuk saling mengenal genre musik  dan bersama berupaya melestarikan kekayaan musik Nusantara ini.
 
“Selain mengadakan kejuaran keroncong untuk menggaet bibit-bibit baru, kami mencoba menampilkan kolaborasi keroncong dengan genre musik berbeda,” ungkap Intan, yang menjabat sebagai Ketua YAKIN. Dalam kolaborasi ini, keroncong tradisional gaya langgam bisa menyatu dalam harmoni ritmis musik elektronik EDM (electronic dance music) dan hip-hop. Keroncong rasa muda ini merupakan hasil kolaborasi dengan DJ Winky (Wiryawan), Topan Tofano, dan Evan Virgan.
 
Momen ini cukup berhasil menjadi pemantik keingintahuan generasi muda, termasuk kaum milenial yang eksploratif terhadap pengalaman bermusik yang baru. Intan sangat senang melihat banyak grup keroncong muda bermunculan di daerah-daerah.
 
“Seru sekali menyaksikan mereka menyanyikan lagu-lagu populer, seperti Bruno Mars, dalam gaya pop keroncong,” ujar Intan, yang kerap berjumpa dengan generasi baru musikus keroncong di berbagai daerah. Di Jakarta ada grup Kerontjong Toegoe yang baru-baru ini berkolaborasi dengannya di Istana Bogor.
 
Dari Bandung, ada Keroncong Tujuh Putri. Seperti namanya, grup keroncong ini beranggotakan tujuh wanita muda yang tidak hanya bisa membawakan cengkok klasik dan pop, tapi juga mahir memainkan alat musiknya. “Cukup ketik #orkeskeroncong, #keroncongkolaborasi, #keroncongmuda di media sosial, kita bisa menemukan bibit-bibit muda. Media sosial menjadi media interaksi sekaligus representasi mereka untuk tetap terkoneksi dengan kekinian,” ungkap wanita yang juga mengepalai bisnis forex.
 
Saat ini ia tengah menggodok rencananya membuat festival keroncong yang santai dan kasual. “Saya membayangkan festival ini digelar di ruang terbuka, dengan penikmatnya adalah orang muda yang datang dengan sneaker, T-shirt, celana pendek, atau denim,” harap Intan, yang masih mengupayakan pendanaan. (f)

Baca Juga:

Usaha Ignatia Nilu, Kurator Artjog, Membumikan Seni Kontemporer
Yuk, Kenalan Dengan Desainer Di Balik Brand Byo: Tommy Ambiyo By
Nin Djani, Mengangkat Sisi Humanis Ainun


Naomi Jayalaksana


Topic

#profil, #keroncong, #musikus

 

polling
Pertimbangan Dalam Memilih Kartu Kredit

Belakangan ini bank makin kreatif dan gencar dalam meluncurkan kartu kredit. Mereka pun bersaing memberikan berbagai fasilitas untuk menggaet pengguna baru.