Profile
Nury Sybli, Guru Baca Tulis untuk Anak-anak Baduy

20 Mar 2017


Foto: Dachri M.S, Dok. Pribadi 

Kondisi anak-anak suku Baduy tidak ada yang mengenal huruf dan angka mengusik nurani Nury Sybli (38), hingga ia rela bolak-balik Jakarta-Baduy demi memperkenalkan anak-anak suku Baduy Luar membaca dan menulis.

Tahun 2007, wanita yang mengawali kariernya sebagai reporter di sebuah media nasional di Jakarta ini mendapat lampu hijau untuk mengajar membaca dan menulis kepada Mulyono. “Murid pertama saya ini adalah putra Kang Sarpin, yang rumah besarnya di Kampung Balimbing Kanekes, selalu menjadi tempat saya menginap  tiap kali berkunjung ke Baduy,” ungkap Nury, yang kini aktif sebagai pengajar PR (public relations) di Universitas Indonesia (UI). Pelan-pelan Mulyono memberanikan diri untuk mengajak teman-temannya untuk ikut di Kelas Baca Baduy. Murid Nury pun bertambah satu demi satu.

Sempat mendapatkan larangan, pembuat buku "Tenunku" dan “Perfect Days of Indonesia” ini tak patah semangat. Kini, anak-anak Kelas Baca Baduy sudah mencapai 60 orang, dari usia 9 hingga 15 tahun. Bahkan, tahun 2015, anak-anak yang sudah bisa membaca mengikuti kelas paket PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) di Leuwidamar, Lebak, Banten.

Dari pengalamannya mendirikan Kelas Baca Baduy wanita pendiri Sybli Boutique of Journalism ini berinisiatif untuk mendirikan Blackhouse Library. Komunitas yang menjadi wadah untuk mengumpulkan alat tulis, buku tulis, dan buku bacaan untuk disebarkan kepada anak-anak di pelosok negeri yang membutuhkan. (f)

Yuk ajukan pertanyaan kepada Nury Sybli dan menangkan kesempatan nonton bareng film Kartini yang dibintangi Dian Sastrowardoyo, plus meet & greet dengan para pemainnya. Untuk bisa mengajukan pertanyaan, klik di sini.


Faunda Liswijayanti


Topic

#wanitainspiratif