Profile
Lusia Kiroyan, Beraktivitas Sosial Sambil Membina Potensi Wirausaha Narapidana hingga Anak Jalanan

20 Mar 2017


Foto: Dok. Pribadi


Ketika didiagnosis TBC tahun 2008 dan menghadapi prahara rumah tangga yang berujung perceraian tahun 2011, Lusia Kiroyan (36) memperoleh kesempatan International Visitor Leadership Program dan belajar tentang economic development sambil keliling 13 kota di AS.


Setahun kemudian, ia mengikuti Muslim Exchange Program di Australia dan bertemu sejumlah artis Muslim di Melbourne, salah satunya Anissa Syarif yang berbagi cerita tentang pembinaan napi anak lewat glass art – seni melukis dengan bahan kaca. Saat itulah, Lusia terinspirasi melakukan aktivitas sosial di tanah air.
 
Setelah itu, Lusia menulis buku bertajuk Cinderella From Indonesia dan, pada tahun 2013, mendirikan Cinderella From Indonesia Center (CFIC) yang bermarkas di Batam. CFIC memberikan bantuan kepada kaum marjinal di masyarakat dengan mendirikan training center ilmu kewirausahaan. Di sini, mereka bisa belajar usaha dengan modal kecil, seperti membuat es, cokelat, kue dan boneka. Lusia tergerak melayani kelompok-kelompok terpinggirkan tersebut karena ia melihat jarang ada yang peduli terhadap mereka. Saat ini, CFIC sudah memberikan pelayanan pada lebih dari 540 napi wanita, 100 anak jalanan, 100 ibu-ibu anak jalanan, 50 napi remaja, 50 orang tua tunggal dan juga 15 remaja berkebutuhan khusus.

Bukan hanya pelatihan, Lusia juga memberdayakan hasil-hasil pelatihan tersebut untuk dijual. Salah satu produknya adalah Batik Girl, boneka yang diproduksi oleh para napi wanita dari dalam penjara. Saat ini, Batik Girl diproduksi sebanyak 1.000-2.000 boneka per tahun dan dipasarkan di Singapura, Brunei, Malaysia, Australia dan Amerika dengan harga 15 US Dolar atau sekitar Rp 150.000. Lusia juga menjalankan program ‘1000 Batik Girl for Indonesia’ dengan memberikan 1.000 boneka untuk anak-anak pengidap kanker, HIV, Thalasemia, disabilitas, dan anak-anak panti asuhan di 10 kota di Indonesia.

Di samping pelayanan sosial, Lusia menjalani bisnis arang tempurung kelapa yang menjadi passion sekaligus sumber mata pencahariannya. Mengaku workaholic, Lusia tidak menganggap pekerjaannya sebagai beban. Baginya, bekerja dan beraktivitas sosial sama pentingnya.
 
“Saya yakin, jika kita baik dan bisa memberikan contoh kebaikan pada sekitar, maka perlahan dunia akan menjadi lebih baik. Saya sangat percaya akan kekuatan individu,” ujar pengagum Ibu Teresa dan Lady Diana ini. (f)

Yuk, ajukan pertanyaan kepada Lusia dan menangkan kesempatan nonton bareng film Kartini yang dibintangi Dian Sastrowardoyo, plus meet & greet dengan para pemainnya. Untuk bisa mengajukan pertanyaan, klik di sini.

Herdiana Hakim (kontributor)



Topic

#wanitainspiratif