Profile
8 Perempuan Supreme: Isha Hening

9 Oct 2018


Dok: femina
 
Profesi sebagai motion graphic artist seperti yang dijalani Isha Hening bukanlah profesi baru di Indonesia. Namun, belakangan nama wanita berambut panjang ini mencuri perhatian berkat karya-karya kreatifnya yang dianggap menonjol hingga ia dipercayakan mengerjakan berbagai proyek pertunjukan dalam skala besar. Selain artis Raisa yang memercayakan pembuatan grafik visual di videoklip dan konser musik, Isha juga mengerjakan proyek besar seperti countdown Asian Games 2018 lalu dan Soundrenalin 2018 di Pulau Dewata, Awal September lalu. 
 
BUKAN MONOPOLI PRIA
Malam apresiasi untuk delapan #PerempuanSupreme pilihan Head & Shoulders dan femina pada Selasa (31/7) membuat penampilan Monas terlihat berbeda. Selama kurang lebih 5 menit, Monas dihiasi atraksi video mapping yang membuat tugu setinggi 132 meter itu membiru dan dihiasi motif batik cantik terinspirasi dari daun argan. Semua itu adalah karya Isha Hening, wanita lulusan Desain Komunikasi Visual (DKV) Institut Teknologi Bandung (ITB) yang sudah 10 tahun menjalani profesi yang konon didominasi oleh pria itu.
 
Jadi, apa motion graphic artist?
Pengertian sederhananya, adalah grafik yang bergerak. Sebenarnya ini sudah lama, tapi sepuluh tahun belakangan, medium motion graphic makin berkembang, terutama dalam hal software. Untuk saya yang bekerja mandiri, klien saya adalah artis atau brand yang membutuhkan visual bergerak di panggung. Jadi, mediumnya bisa luas, dari dekorasi panggung hingga video mapping yang intinya memanipulasi optik.
 
Sejak kapan menekuni profesi ini?
Sejak tahun 2006, jadi sudah lebih dari 10 tahun. Awalnya saat kuliah, saya sudah kerja sambilan mengedit video. Lalu, ada kebutuhan untuk materi motion graphic, saya pun coba-coba belajar. Ternyata seru!
 
Berapa lama untuk mengerjakan satu proyek?
Ada yang hanya satu minggu, ada juga yang sampai enam bulan, tergantung konsep acaranya. Proses paling lama adalah untuk menggodok ide, lalu terkait hal teknis yang harus dibereskan sejak awal. Misalnya, apakah konsep tersebut didukung secara teknik, seperti alat. Baru setelah itu saya bisa mulai produksi.
 
Tantangan terbesar?
Selain ide tidak boleh kering, saya juga harus update dengan teknologi. Karena, di bidang ini ada banyak hal yang bersifat teknis. Pekerjaan ini istilahnya harus mau jadi tukang. Dulu, saya kerap dicibir, apalagi saat di lapangan, oleh orang-orang teknisi, yang mayoritas laki-laki. Karena saya wanita, saya dianggap tidak tahu apaapa. Semua keraguan itu saya jawab dengan kerja.
 
Wanita memang masih jarang?
Sebenarnya ini bukan bidang yang hanya dimonopoli pria, tapi yang artisan seperti saya masih bisa dihitung, apalagi wanita. Mungkin karena banyak hal yang bersifat teknis.
 
Yang disuka dari pekerjaan ini?
Pertama, sih, uangnya…ha…ha…ha… Yang pasti, pekerjaannya seru. Kebanyakan klien membebaskan saya untuk mencurahkan ide dan bebas ngayal. Selain itu saya juga bisa bekerja sendiri, walaupun memang di akhir proyek saya harus bekerja dengan vendor untuk mewujudkan karya saya.
 
Berapa harga untuk satu proyek?
Antara Rp50 juta hingga Rp200 juta. Semuanya tergantung konsep, tingkat kesulitan, dan durasinya.
 
MENGALIR DARAH SENI
Di studionya, di sebuah apartemen di bilangan Jakarta Selatan, Isha menemui femina. Ia sendirian saja, hanya musik instrumental diputar perlahan. Menurutnya, dalam kesunyian ia bisa mendapatkan banyak inspirasi untuk berkarya.
 
Anda juga senang bermusik?
Kalau iseng, saya juga main musik. Ini cukup membantu di pekerjaan, ketika membuat project visual untuk konser, saya jadi lebih menghayati. Enggak sekadar dengerin musiknya saja.
 
Dari mana bakat seni Anda?
Ayah saya seorang pelukis. Saya senang saat melihatnya, sampai akhirnya ikut terjun ke seni.
 
Style karya Anda seperti apa?
Gaya saya kebanyakan surreal, juga agak-agak psychedelic dan cyber punk. Ini pengaruh juga dari kesukaan pada musik dan anime Jepang.
 
Benarkah asumsi orang bahwa seniman itu bebas soal waktu?
Orang melihat kerja di bidang art itu seru dan bisa mengatur waktu sendiri. Di sinilah tricky-nya. Kalau menurut saya bebas benar. Tapi, kita tetap harus disiplin diri dan mengasah skill terus-menerus, jangan berhenti di situ saja. Kita tidak bisa berpikir, ah, nanti saja bekerjanya menunggu mood.
 
Yang paling ditakutkan saat karya Anda akan ditampilkan?
Kendala teknis karena bisa saja muncul kapan saja, misalnya listrik tiba-tiba mati atau komputer bermasalah. Saya pernah mengalaminya di awal-awal karier. Tapi, makin ke sini sudah jarang, karena teknologinya juga makin rapi, sudah terasa kemajuannya.
 
Karya yang sukses versi Anda?
Sederhana saja, kalau saat konser, pas video mapping saya keluar dan orang mulai foto-foto, artinya mapping saya disukai. Ada apresiasi dari orang yang melihat karya saya. Kalau yang personal, yaitu saat saya sudah senang dan puas sehingga menjadi benchmark.
 
Mimpi Anda?
Saya ingin membuat showcase sendiri. Saya ingin karya-karya saya ini bisa dinikmati lebih banyak orang dalam sebuah pameran. (f)

Baca Juga: 
8 Perempuan Supreme: Yura Yunita
Ini 8 Wanita Hebat Penerima Apresiasi #KitaSupreme
#KITASUPREME, Apresiasi untuk Kekuatan dan Kehebatan 8 Wanita Indonesia

 

Faunda Liswijayanti


Topic

#kitasupreme

 

polling
Pertimbangan Dalam Memilih Kartu Kredit

Belakangan ini bank makin kreatif dan gencar dalam meluncurkan kartu kredit. Mereka pun bersaing memberikan berbagai fasilitas untuk menggaet pengguna baru.