Profile
6 Wanita Inspiratif Bicara Soal Perjuangan Mereka dalam Semangat Kartini

21 Apr 2017


Foto: Dok. Pribadi
 
Melalui Live Chat Inspirasi Kartini "Selangkah lagi untuk menang", femina ngobrol bersama enam wanita inspiratif #AXAMandiriFemina pada tanggal 12 April 2017 lalu. Meski yang hadir secara fisik hanya empat orang, yaitu Nury Sybli, Evy Harjono Amir Syamsudin, Heni Sri Sundani, dan Anne Sri Arti, namun akun Twitter @feminamagazine tetap dibanjiri pertanyaan untuk Happy Salma dan Lusia Kiroyan. Berikut pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh sahabat femina kepada keenam wanita tersebut.

Pertanyaan untuk Nury Sybli @NurySybli
1/ Tantangan apa yang ditemui saat mengajar di suku Baduy? Bagimana caranya sampai akhirnya diterima oleh mereka karena setahu saya suku Baduy tidak mau mengikuti kemajuan teknologi, listrik pun mereka tidak mau menggunakannya. (Novicillia Anggraini, 25, Jakarta, @novi__mpie)
Jawab: Menempuh perkampungan Baduy butuh fisik dan persiapan yang cukup untuk menapaki jalur terjal dan licin. Dari perbatasan saya masih harus jalan kaki sekitar 30 menit sampai satu jam tergantung kampung yang kami tuju. Di Baduy memang tidak ada listrik, jadi anak-anak belajar dengan penerangan seadanya dari lilin atau headlamp. Ditambah lagi dengan lingkungan yang tenang membuat kami harus mengatur volume mengajar. Tantangan terberat adalah aturan adat yang melarang warganya untuk bersekolah. Butuh waktu untuk menjelaskan dan berkomunikasi dengan masyarakat adat karena aturan dan segala keterbatasannya.

2/ Apakah ada keinginan ingin mendirikan sekolah untuk anak suku Baduy? ( Nina Zuyyinah, 30, Jakarta, @zuyyinahnina1)
Jawab: Ada aturan adat yang harus dihormati. Yang utama, anak-anak memiliki kemampuan menghadapi zaman, bukan (membutuhkan) bangunan secara fisik.

3/ Menurut Anda, apa yang terpenting dalam membujuk anak-anak agar gemar membaca di era digital sekarang ini? (Sri Devi Riyanti, 23, Jakarta Barat, @eviikodoqzz)
Jawab: Jadilah teman. Dengan berteman kita menjadi mengerti apa yang anak-anak inginkan dan apa yang mereka butuhkan. Bukan berarti memenuhi kemauan mereka. Lebih kepada mendalami apa yang terbaik agar membaca itu menjadi sesuatu yang menyenangkan. Awali dengan cara bercerita tentang kondisi atau kegiatan anak-anak di daerah lain yang kurang beruntung atau anak hebat lainnya. Hal ini bisa mendorong anak-anak untuk punya rasa ingin tahu, atau sebaliknya hanya mendengarkan. Ketika sedang mendampingi anak-anak membaca, saya beri tantangan dan hadiah. Dengan begitu, saya percaya membaca itu sesuatu yang menyenangkan. 

Pertanyaan untuk Happy Salma @Happy_Salma
1/ Bagaimana cara mengembangkan Tulola Jewelry hingga bisa sesukses sekarang? (Mediana, 26, Jakarta, @M3d14na)
Jawab: Dengan terus berinovasi dalam desain, tapi teknik pengerjaan tetap tradisional. Mengutamakan pelayanan dan garansi.

2/ Bagaimana cara menjadi socialpreneur sukses? (Litha Kusuma, 21, Jakarta, @Litha9)
Jawab: Terus berpikir dan maju ke depan, mengasah intuisi dan ekspresi. Jadi tidak ada waktu buat memikirkan yang lain, tapi jangan lupa rehat untuk introspeksi diri.

3/ Bagaimana cara membuat penonton tertarik menikmati hasil karya secara legal, alias membeli tiket nonton guna menghindari pembajakan yang sedang marak terjadi? (Aulia, 24, Jakarta, @liacliq)
Jawab: Dengan cara edukasi dan juga promosi yang baik agar ingin menonton secepatnya di bioskop. 

Pertanyaan untuk Heni Sri Sundani @Jaladara9
1/ Bagaimana memulai suatu bisnis yang berbasis sosial (social enterprises) pada suatu lingkup wilayah? (Ayu Resti Pamungkassari, 25, Bogor, @ayuresti)
Jawab: Mulai dari ide untuk menyelesaikan masalah yang terjadi di lingkungan, eksekusi dengan rencana bisnis, kerjakan bersama tim dan benefit sebagai goal.

2/ Apakah gerakan Anak Petani Cerdas menyentuh persoalan rendahnya minat generasi zaman sekarang untuk menjadi petani? (Dini, 39, Depok, @SvtDini)
jawab: Iya. Kami melakukan kampanye di media sosial dan ada program wisata edukasi menggandeng agropreneur sukses sebagai inspirasi. Visitor bisa investasi pada usaha yang direkomendasikan.

3/ Apakah menggandeng pihak lain dalam pelaksanaan gerakan Anak Petani Cerdas? Dalam waktu dekat target apa yang ingin dicapai? (Mulyati Asih, 35, Jakarta, @mulyatiasih)
Jawab: Anak Petani Cerdas gandeng banyak pihak, mulai dari komunitas, CSR, NGO, relawan multi-background baik dalam maupun luar negeri. Target selanjutnya adalah menyekolahkan anak-anak putus sekolah.

Pertanyaan untuk Evy Harjono Amir Syamsudin @harjono
1/ Apakah ada pendampingan lagi setelah warga binaan tersebut kembali ke masyarakat? Mengingat tujuan jangka panjang Second Chance adalah bagaimana nantinya para warga binaan tersebut bisa kembali berbaur dan diterima oleh masyarakat. (Panca Candikarini, 38, Jakarta, @pancamagneta)
Jawab: Proses pendampingan menjadi satu kesatuan tanggung jawab, mulai dari Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP), petugas, yayasan atau CSR, dan masyarakat setelah selesai.

2/ Apa pencapaian terbesar selama berlangsungnya program Anda untuk narapidana? (Tetty Supriyanti, 36, Depok, @suprianty80)
Jawab: Hasilkan produk-produk dengan kualitas ekspor, pameran hasil karya WBP, membantu mewujudkan lapas-lapas industri sesuai program pemerintah.

3/ Salut dan bangga kepada ibu karena masih peduli dan memberdayakan potensi narapidana. Saya ingin tahu apa target ibu ke depannya? (Hapsari Trisetianingsih, 35,Tangerang @hapsarinew)
Jawab: Agar WBP tidak kembali lagi ke LP menjadi manusia produktif, bermartabat, dan dapat diterima kembali di keluarganya.

Pertanyan untuk Anne Sri Arti @AnneSriArti
1/ Adakah ide-ide baru yang sekarang sedang kembangkan untuk menaikkan taraf hidup peternak, seperti diversifikasi produk olahan susu? (Siti Khairul Bariyyah, 31, Bogor, @RiA_sIkHa)
Jawab: Buat saya yang lebih penting adalah menciptakan pasar, komoditi apa pun jika tidak punya pasar yang pasti akan sia-sia atau berisiko tinggi.

2/ Bagaimana menyikapi hal-hal yang tidak bisa dikendalikan dalam bisnis? Pasti ada masanya ibu ingin menyerah. (Shopia, 43, Jakarta, @saradhu)
Jawab: Sebagai entrepreuneur kita memprediksikan sesuatu jauh ke depan, mempersempit kemungkinan-kemungkinan kendala yang tidak mudah diatasi. Semua kendala sudah diperhitungkan secara matang, sehingga banyak alternatif solusi. Alhamdulillah tidak pernah ada momen menyerah karena saya melakukannya dengan hati, sehingga semua yang saya lakukan akan menjadi mudah.

3/ Bagaimana cara mempertahankan bisnis ketika sudah banyak kompetitor dengan harga yang juga bersaing tipis? Trivia Winanda, 22, Bandung, @triviaw
Jawab: Jangan berhenti pada satu pola pasar karena masih banyak pasar-pasar yang belum tersentuh atau captive market.

Pertanyaa untuk Lusia Kiroyan @cinderelaindo
1/ Why Cinderella? Sebab di sisi lain ada yang menganggap Cinderella sebagai simbol kemanjaan, bahkan ada istilah Cinderella Complex gara-gara Cinderella dianggap mewakili perasaan takut untuk mandiri. (Leila Niwanda, 32, Jakarta, @LNiwanda)
Jawab: Namanya Cinderella karena kami sama-sama berkutat dengan arang, fyi usaha utama saya adalah arang. Cinderella adalah tokoh yang identik dengan rajin dan bekerja keras. Berhubung tokoh Cinderella juga dikenal seluruh dunia, saya menggunakan brand Cinderella From Indonesia untuk mempercepat penyebaran misi sosial "Batik Girl" dan " Little Lucy" agar dapat menginspirasi anak-anak  perempuan di Indonesia maupun di dunia agar bisa mandiri lewat berkarya.

2/ Bagaimana cara mengajak napi wanita, napi remaja, anak jalanan untuk ikut serta Cinderella From Indonesia Center? Bukannya (maaf) mereka kurang bisa diatur dan punya watak yang keras? (Anita, 19, Tangerang, @aissky_)
Jawab: Banyak yang salah presepsi terhadap watak mereka. Menurut saya pribadi lebih mudah melatih orang yang di penjara daripada mereka yang di luar sana. Napi bisa lebih fokus karena mereka tidak bisa ke mana-mana. Saya membina mereka dengan penuh cinta dan ketulusan maka tidak heran jika mereka sangat mudah saya arahkan.

3/ Berapa persen porsi bisnis dan sosial yang menjadi panduan Anda bekerja? (Magdalena, 33, Jakarta, @lena_ltoruan)
Jawab: Persentase menjalani hidup: 80% sosial, 20% bisnis. Ini sudah saya jalani sejak lima tahun lalu. Jika saya balik persentasenya maka bisa dipastikan saya akan sakit, terkena musibah, serta kehilangan sesuatu atau seseorang yang begitu berharga dalam hidup saya. (f)

Baca juga:
11 Profil Kartini Era Kini: Sri Mulyani, Dian Sastrowardoyo, hingga Liliyana Natsir

Alice Larasati


Topic

#Kartini, #wanitainspiratif