Health & Diet
Berjemur Memiliki Banyak Manfaat, Mulai dari Cegah Osteoporosis hingga Autoimun

11 Aug 2017


Foto: Pixabay

Bagi orang Indonesia, berjemur bukan hal yang lumrah dilakukan, berbeda dengan bangsa Eropa atau Amerika. Bahkan tidak jarang, matahari bukan menjadi sahabat baik bagi orang Asia. Padahal matahari merupakan sumber vitamin D yang bermanfaat bagi tubuh. Karena kulit kita akan memproduksi vitamin D saat terpapar sinar matahari.
 
Defisiensi vitamin D dapat menghambat pertumbuhan dan metabolisme tubuh keseluruhan. Kurangnya asupan vitamin D dapat mengganggu beberapa fungsi vital tubuh karena vitamin D berperan penting dalam: pertumbuhan sel, otot dan saraf, sistem imun tubuh, radang dan inflamasi, serta berbagai gen yang mengatur proliferasi sel, diferensiasi sel, dan apoptosis (matinya suatu sel dengan sendirinya).
 
Rendahnya vitamin D juga dapat diasosiasikan dengan berbagai macam penyakit kronis seperti osteoporosis, jantung koroner, kanker, diabetes, autoimun, dan berbagai masalah infeksi saraf dan depresi.
 
Vitamin D ibarat sakelar dalam tubuh yang dapat menghidupkan atau mematikan proses metabolisme dan genetik untuk menjaga kesehatan. Menurut dr. Mercola, pakar kesehatan dari Amerika Serikat, dengan cukup vitamin D, sistem imun dalam tubuh seseorang akan bekerja lebih maksimal, sehingga mengurangi risiko terkena penyakit autoimun.
 
Vitamin D juga berfungsi untuk menjaga fleksibilitas pembuluh darah. Vitamin D bisa didapat dengan cara yang mudah yaitu melalui paparan sinar matahari pada kulit. Itu sebabnya, berjemur menjadi langkah terbaik untuk memenuhi kebutuhan tubuh akan vitamin D. Tapi, jangan asal berjemur, karena yang dibutuhkan tubuh adalah sinar UVB bukan UVA yang justru membahayakan kulit.
 
Berikut ini yang perlu diperhatikan orang Asia saat berjemur:
 
1/ Yang membantu proses sintesis vitamin D adalah paparan sinar matahari gelombang pendek sedang atau UVB. Sinar UVB ini didapat dari paparan sinar matahari langsung. Sedangkan UVA atau sinar matahari yang melalui jendela kaca tidak menghasilkan vitamin D. UVA justru menimbulkan efek negatif untuk kulit seperti melanoma (kanker kulit).
 
2/ Setiap orang memiliki kepekaan yang berbeda terhadap paparan sinar matahari, tergantung jenis kulit, ketersediaan bahan makanan untuk menyintesis vitamin D, kondisi kulit, warna kulit, usia, dan baju yang dikenakan.
 
3/ Untuk mendapatkan UVB, matahari harus berada pada posisi di garis lintang 50 derajat. Letak garis lintang ini berbeda-beda tergantung lokasi geografis. Untuk Indonesia bagian barat, garis lintang 50 derajat terdapat pada pukul 10.00 – 11.00 sampai pukul 14.00 – 15.00 WIB. Itu sebabnya direkomendasikan berjemur antara jam 10 pagi hingga jam 2 siang.
 
4/ Lama berjemur cukup 5-10 menit, sebelum terasa sunburn di kulit.  Semakin putih warna kulit maka dibutuhkan waktu berjemur yang semakin singkat (5-10 menit). Semakin gelap warna kulit maka memerlukan waktu yang lebih lama (sampai hanya 15 menit), tidak lebih.
 
5/ Untuk mendapatkan vitamin D yang cukup disarankan tangan dan kaki terpapar sinar matahari, minimal 1/3 bagian tubuh dan kulit.
 
6/ Wajah memiliki kulit yang tipis, karena itu tidak akan banyak menghasilkan vitamin D. Sebaiknya saat berjemur, gunakan pelindung wajah, seperti topi, agar kulit wajah terlindungi dan terhindar dari flek.
 
7/ Jika berjemur terlalu lama dan mengalami tanda-tanda sunburn, segera olesi dengan lidah buaya. Sedangkan dimalam hari olesi kulit dengan Virgin Coconut Oil.
 
8/ Bagi mereka yang mengonsumsi obat-obatan tertentu, berjemur bisa menimbulkan efek samping yang kurang menyenangkan. Jika demikian, hindari berjemur hingga tidak lagi mengonsumsi obat-obatan tersebut.(f)
 
 


Faunda Liswijayanti


Topic

#vitaminD #kesehatan #berjemur