
Tahukah Anda, tanaman liar yang tumbuh begitu saja di pinggir jalan, pematang sawah, dan lahan-lahan tak bertuan, bisa jadi sumber makanan kaya gizi. Tak kenal maka tak sayang. Karena tak mengenali jenis-jenis tanaman liar itu, tak heran kalau sangat jarang yang mau mengonsumsinya. Padahal, beberapa penelitian, baik di dalam maupun di luar negeri, telah membuktikan khasiat herba berikut ini.
Daun Ketulan (Bidens pilosa)Tanaman sejenis rumput ini sering dianggap gulma oleh petani. Pertumbuhannya dapat ditemukan dengan mudah di ladang, persawahan, dan juga pinggir-pinggir jalan. Dalam berbagai penelitian medis, ditemukan bukti bahwa tanaman ini memiliki sifat farmakologis yang efektif, seperti kegiatan antibakteri, antiinflamasi, dan antialergi.
Dahulu, rebusan atau perasan daunnya sering dimanfaatkan untuk mengatasi batuk. Sering juga dicampurkan dalam air mandi untuk menyembuhkan gatal-gatal dan nyeri rematik. Di Jawa Barat, daun-daun dan pucuknya yang muda dikunyah sebagai obat sakit gigi.
Saran Pengolahan:
Di masyarakat Sunda dulu dikonsumsi sebagai campuran sayur lodeh, atau dijadikan lalapan segar. Begitu juga di beberapa daerah di Jawa Timur, tanaman ini dikonsumsi sebagai urap.

Bunga Telang Ungu (Clitoria ternatea)Warna ungu/biru bunga telang adalah pigmen antosianin yang berkhasiat sebagai antioksidan (mencegah penuaan dini) dan berkhasiat memelihara kesehatan saluran pencernaan. Dulunya, bunga ini biasa digunakan untuk obat mata bayi yang belekan.
Saran pengolahan:
Bunga telang digunakan untuk mendapatkan warna biru. Untuk membuat nasi biru atau nasi tumpeng kapuranto pada zaman dulu, diwarnai dengan ekstrak bunga telang. Cara membuat ekstraknya, bunga telang dipisahkan bagian putih mahkota bunganya, bagian yang berwarna ungu dikukus sebentar (dapat juga dicelup air mendidih), setelah itu ditumbuk (dihancurkan) dengan ditambah air dan disaring. Ekstrak bunga telang siap untuk mewarnai adonan.
Bunga telang juga bisa menjadi campuran pada pepes tahu. Selain itu, bunga telang juga bisa diolah sebagai minuman, menjadi teh bunga telang. Caranya, masukkan bunga telang dan serai dalam air mendidih, rebus hingga warna menjadi biru tua dan aroma serai menjadi wangi. Tambahkan perasan jeruk nipis dan madu sesuai selera.
Pegagan (Centella Asiatica) Disebut juga sebagai antanan (Sunda) atau pacul gowang (Jawa), mengandung senyawa fenolik yang berkhasiat antioksidan dan juga zat yang bersifat antimikroba. Seiring dengan teknologi yang berkembang, berbagai penelitian menemukan bahwa pegagan adalah makanan bagi otak (agar ingatan makin kuat serta tidak mudah lupa).
Saran pengolahan:
Di tataran Sunda, semua bagian tanaman biasa digunakan, baik itu akar, batang, dan daun. Bisa dikonsumsi sebagai lalapan segar, dimakan sebagai cocolan sambal terasi, atau kalau di Bogor menjadi salah satu campuran rujak asinan. Bisa juga dijadikan bahan utama bakwan (dicampur dengan terigu, seledri, bawang daun, ketumbar dan bawang merah serta bawang putih, lalu digoreng menjadi bakwan).
Daun Racun (Kastuba/ Euphorbia pulcherrima) Tanaman ini banyak tumbuh di dataran rendah maupun dataran tinggi. Kita sering menemukan tanaman berdaun merah ini sebagai tanaman hias, terutama menjelang hari Natal. Jangan takut dengan namanya. Tanaman ini banyak mengandung vitamin C, seng, klorofil, kalsium, dan zat besi.
Saran Pengolahan:
Sedap dimasak sebagai buntil. Caranya, daun kastuba dimanfaatkan sebagai daun pembungkus. Buat bumbu isian dari parutan kelapa yang dicampur dengan teri medan, petai cina, serta bumbu yang terbuat dari bawang merah, bawang putih, ketumbar, cabai, terasi, kunyit, kencur, gula merah, dan garam. Lipatlah dan gulung daun kastuba kemudian ikat erat-erat dengan tali katun. Buat bumbu lodeh dengan santan, masukkan gulungan daun kastuba.
Daun Kastuba juga bisa diolah sebagai campuran sayur untuk urap atau dibuat lodeh. Khasiat daun yang lebih optimal bisa diperoleh jika daun tidak dimasak berlebihan (terkena panas berlebihan, atau terlalu lama). Jika dimasak terlalu lama, khasiat daun hanyalah sebagai sumber mineral dan serat pangan yang bermanfaat untuk kesehatan saluran pencernaan.

Tempuyung (Sonchus arvensis) Tanaman ini memiliki beberapa nama daerah, seperti lobak air, lempung jombang, galibug, lampenas, dan rayana. Banyak tumbuh di pematang sawah, semak-semak, di antara puing-puing bangunan, tembok, ataupun pinggir jalan. Daunnya memiliki kandungan manitol, flavonoid, P-laktuserol, oc-laktuserol, inositol, kumarin, taraksasterol, asam fenolat, serta ion-ion mineral.
Belum ada penelitian serius mengenai khasiat daun ini, namun menurut tradisi lokal, dulunya daun ini sering dimanfaatkan sebagai obat batu ginjal dan asam urat. Ada juga yang suka menyeduh daun tempuyung dengan air panas untuk mengurangi rasa letih dan pegal-pegal.
Saran pengolahan:
Bagian daun yang masih muda biasa dimanfaatkan untuk campuran sayur lodeh maupun urap.

Daun Kolesom Jawa (Talinum triangulare)
Tumbuh liar sebagai semak-semak, daun ini mengandung serat pangan larut air yang tinggi dan bermanfaat untuk memelihara kesehatan saluran cerna, menjaga kadar gula darah, dan mampu menurunkan kolesterol darah.
Saran Pengolahan:
Cocok untuk dibuat sayur bening, sebagai campuran mi kuah, ataupun ditumis.

Daun Kelor (Moringa oleifera)
Tanaman ini bisa tumbuh dengan tinggi batang sekitar 7 - 11 meter. Penelitian tentang khasiat tanaman ini telah banyak dilakukan di banyak negara, termasuk di antaranya oleh WHO. Di Somalia, Ethiopia, dan Sudan, pohon kelor merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari dan dikonsumsi sebagai sayuran untuk menjaga kesehatan. WHO bahkan menganjurkan agar tanaman ini dikonsumsi oleh anak-anak dan bayi usia di atas 6 bulan, yang masih dalam masa pertumbuhan, karena kandungan nutrisinya yang tinggi.
Daun kelor mengandung potasium 3 kali lipat daripada pisang. Kandungan kalsiumnya 4 kali lipat lebih banyak daripada susu. Kandungan vitamin C-nya 7 kali lipat daripada jeruk, sementara kandungan vitamin A-nya 4 kali lipat lebih banyak daripada wortel.
Saran Pengolahan:
Daun kelor dapat dimasak dengan cara ditumis, dibuat sayur bening, dan sebagai campuran urap atau sambal pecel.

Begonia (Begonia cultivars)Selain mudah ditemui sebagai tanaman liar, tanaman ini sering juga dimanfaatkan sebagai tanaman hias. Tak banyak yang tahu bahwa daun dan bunganya aman dikonsumsi. Tanaman ini adalah sumber makanan yang kaya vitamin C. Daun dan bunga begonia mengandung vitamin C, sekitar 1,4-1,6 mg/g bahan segar dan cukup memberikan cita rasa asam.
Saran pengolahan:
Sekitar dua dekade silam, di beberapa daerah di Indonesia bunga begonia dikonsumsi sebagai campuran sambal. Daun dan bunganya bisa dimanfaatkan untuk pengganti belimbing wuluh. Daun dan bunga dapat dikonsumsi segar untuk salad atau lalap. Bisa juga ditumis bersama campuran cabai dan bawang.
Konsultan:
Nissa Wargadipura (Praktisi Pertanian) dan Prof. Dr. IR Nuri Andarwulan M.SI, Guru Besar Jurusan Ilmu dan Teknologi Pangan, Fakultas Pertanian, IPB.




