Fiction
Susun Tarah [5]

4 Sep 2016


Bagian 5 (Tamat)
 
Kisah sebelumnya:
Juniar, wanita muda dari keluarga ningrat di Bumi Betuah, kawasan yang terletak di Sumatra Selatan. Di usianya yang relatif matang, Juniar jatuh hati kepada Kurman, yang merupakan putra Ny. Adiguna, musuh bebuyutannya di masa kecil. Setelah bertukar beteri mandi dan berkirim surat, akhirnya Juniar dan Kurman pun sepakat menikah dengan adat susun tarah.
 
Selesai nasihat Me-Be-Be, kedua nenek masih melanjutkan nasihatnya yang menembus tabu tentang urusan ranjang; kamasutra lengkap yang sangat menggairahkan versi Melayu kuno yang sesuai dengan ajaran agama. Kamasutra ini disusun oleh Reden Kasian, perpaduan kamasutra Tiongkok, Arab, Jawa, dan India. Saya harus katakan dengan berat hati bahwa saya tak dibolehkan menuliskan nasihat itu dalam cerita ini.
Pengantin pria mendapatkan nasihat dari dua kakek, biasanya dimulai dengan jurus K-M-T-T-M, jurus wajib yang harus dipatuhi pengantin pria. K artinya Keluar. M artinya Masuk. T artinya Telentang. T lagi artinya Telungkup, dan M yang terakhir artinya Memanjang serta membesar.
“Seorang suami harus bisa keluar, artinya bila nanti kau telah jadi pengantin baru, jangan hanya mengurung diri di kamar bersama istrimu. Kau harus tetap keluar dan bekerja sebagaimana biasanya. Boleh berbulan madu, tapi tetap harus bisa lihat-lihat waktu, sebab kita ini hidup memakan nasi, bukan memakan cinta! Adalah kejahatan namanya bila sang suami bermalas-malasan dalam bekerja hingga istri dan anak-anaknya telantar!” kata kakek pertama.
“M artinya masuk,” lanjut kakek kedua. “Masuk itu maksudnya, setelah kau keluar bekerja keras mencari nafkah, terutama yang berupa uang, maka hasilnya harus kau bawa pulang, harus kau bawa masuk ke dalam rumah untuk diserahkan kepada istrimu. Jangan sekali-kali mengeluarkan uang untuk wanita lain, kecuali wanita itu masih keluargamu, itu pun istrimu harus tahu. Paham kau? Masuk ini juga berarti kesadaran mendasar bahwa sepulang bekerja di luar, kau hanya boleh masuk ke kamar istrimu, tak boleh kelayapan hingga salah masuk rumah wanita lain! Hanya di ladang istrimu yang sah kau boleh memasukkan benih! Ladang yang lain milik tetangga yang mungkin rumputnya terlihat lebih hijau, tak halal kau masukkan benih!”
Kakek kedua melanjutkan nasihat. “T artinya telentang, yaitu tanda pasrah, lega, rela menerima segala kelebihan dan kekurangan istrimu, sebab tak ada wanita yang sempurna di muka bumi ini, tak ada! Justru ketidaksempurnaan itulah yang membuat wanita menjadi sempurna. Paham kau? Telentang juga artinya memberi keleluasaan pada istrimu untuk berkarya di atas tubuhmu! Istrimu perlu bergaul, perlu olahraga, perlu rekreasi, perlu melihat bagaimana perkembangan dunia. Kasih istrimu kesempatan untuk menggunakan bakat dan  ilmunya untuk berkarya! Kasih izin istrimu untuk bekerja selama ia bisa membagi waktu antara karier dan keluarga!”
Kakek pertama menggantikan nasihatnya. “T yang berikutnya artinya telungkup; itu tanda perlindungan! Kau harus melindungi, menyayangi, menaungi istrimu dengan tubuhmu dan dengan segala daya yang kau punya supaya istri dan anak-anakmu bisa hidup nyaman dan berkecukupan! Paham kau? Telungkup sama juga artinya dengan menutupi tubuh istrimu dengan tubuhmu! Itu maksudnya, kau harus menutupi kekurangan istrimu, harus menutupi aib istrimu. Telungkup ini juga menggambarkan perlindungan total; jangan sekali-kali kau memukul istri dan anak-anakmu! Jangan sekali-kali! Istri dan anak-anak itu rezeki dari Tuhan untuk kau syukuri dan kau sayangi.”
Kakek kedua menutup nasihat jurus K-M-T-T-M malam itu. “M yang terakhir artinya membesar dan memanjang. Bukan burungmu yang membesar dan memanjang, yang harus membesar adalah jiwamu, dan yang harus memanjang adalah pemikiranmu. Setelah menikah dan jadi seorang suami, tak boleh lagi berpikiran pendek. Semua hal harus dipikirkan panjang-panjang dan matang-matang. Jangan sekali-kali berpikiran pendek dan kekanak-kanakan serta mengambil jalan pintas untuk menyelesaikan urusan keluarga. Paham kau?”
Selesai bernasihat tentang jurus-jurus berumah tangga, pengantin pria juga mendapat nasihat kamasutra, sebab suami itu wajib mencukupi nafkah lahir dan batin istrinya. Lagi-lagi nasihat kamasutra ini tak boleh kutuliskan di cerita ini.
Menjelang subuh, dua calon pengantin dibawa pulang ke rumah masing-masing untuk dirias: berbedak, bergincu, bersanggul, bersongket, berkebaya, berkonde, bermahkota bak ratu dan raja. Selama proses berhias tersebut, anggota keluarga yang lain sibuk mempersiapkan segala macam ambinan; ada ambinan besak berisi kasur, bantal, selimut, hingga kain seprai. Ada ambinan kecil berisi anyaman niru, tikar, setangkup bakul, dan beberapa ruas lemang gemuk, lemang pengantin yang rasanya lembut serta gurih, yang kalau dimakan bersama kuah daging bisa membuat pemakannya lupa mertua saking enaknya.
Selesai berdandan, rombongan pengantin pria diarak-arak menuju rumah pengantin wanita diiringi tabuhan musik rebana, didampingi oleh seorang juru kuntau dan juru pantun yang paling hebat di rurungnya. Pengantin wanita dan rombongan sudah duduk menanti di depan pelaminan bersama bapak penghulu. Di depan pintu sudah ada juru pantun dan di halaman sudah siaga juru kuntau. Sejak pagi rumah pengantin wanita juga ramai musik rebana.
Ketika rombongan pengantin pria tiba, pertarungan terjadi. Dua juru kuntau saling beradu jurus, kalau juru kuntau pengantin pria kalah, maka ia beserta rombongan harus kembali pulang, tapi tak ada sejarahnya juru kuntau pria itu kalah, sebab juru kuntau wanita sering kali pura-pura mengalah supaya sang pengantin segera diijabkabulkan. Tiba di depan pintu rumah, juru pantun pengantin pria harus bertarung membalas juru pantun pengantin wanita, itu sejenis pantun berbalas yang menanyakan asal-usul uyun, menanyakan tujuan datang dan menanyakan kesanggupan serta kesungguhan untuk menikahi anak gadis perawan pemilik rumah. Kalau hanya main-main, tak usah datang meminang, pergi saja ke danau, bersenang-senang, memancing atau memasang bubu, sebab orang menikah itu tanggung jawabnya besar. Ikatan pernikahan sama sakral dan sama sucinya dengan ikatan seorang nabi dengan Tuhannya. Ikrar pernikahan sama mulianya dengan ikrar pengangkatan seorang nabi terpilih untuk memperbaiki akhlak dunia!
Izin masuk dari juru kuntau dan juru pantun menandakan ijab kabul segera dilaksanakan, itulah puncak segala susun tarah di Kampung Bumi Betuah. Diijabkabulkannya sepasang anak manusia yang saling mencintai. Itulah ikatan yang harus dipertahankan hingga titik darah penghabisan, itulah ikatan yang harus dijaga sungguh-sungguh apa pun taruhannya. Menikah untuk sekali seumur hidup, hanya Tuhan saja yang boleh memisahkan dengan satu kata: maut.
Seorang suami atau seorang istri yang memutuskan bercerai dengan berbagai alasan, baik yang masuk akal maupun yang klise, sama buruknya dengan seorang nabi yang memutuskan untuk berhenti jadi nabi karena merasa tak sanggup menjalankan tugas kenabian yang berat. Padahal, Tuhan sudah menjanjikan bahwa Dia tak akan menguji manusia di luar batas kemampuannya!
Inilah fakta yang terjadi hingga saat ini: semua pasangan suami-istri di Bumi Betuah yang menikah dengan susun tarah lengkap, tak ada yang bercerai, tak ada yang tak bahagia dengan pernikahannya! Sebab, pernikahan itu dibangun dalam fondasi cinta, lalu dikokohkan oleh banyak doa yang berkah! Sebetulnya, diijabkabulkannya sepasang anak manusia inilah yang disebut semende.
Selesai ijab kabul, semua yang hadir dipersilakan menikmati santapan lezat, sementara sepasang pengantin didudukkan di pelaminan; diperlakukan bak ratu dan raja sehari, disalam-salami, dilimpahi dengan banyak sekali doa, benar-benar doa tulus dari sanak keluarga yang tiada putus-putusnya hingga waktu salat Zuhur tiba. Sepasang pengantin diarak menuju masjid terdekat, pengantin pria yang telah resmi jadi imam salat istrinya didaulat untuk jadi imam pertama kali, semua anggota keluarga jadi makmum. Hanya mahkota saja yang dilepas, sepasang pengantin tetap salat dengan busana pengantin yang indah gemerlapan.
Baju pengantin suku Melayu Semende adalah beludru hitam bersulam benang emas dengan bawahan kain songket merah keemasan sebatas mata kaki. Tak ada kain tile dengan payet-payet yang berlebihan menyapu tanah! Tak ada! Sungguh tak ada kemubaziran dalam semua susun tarah pernikahan adat Semende.
Lantunan bacaan Suratul Fatihah pertama kali dari pengantin pria siang itu akan menunjukkan seberapa pandai sang pengantin pria mengaji untuk mengimami istri dan anak-anaknya kelak di kemudian hari. Biasanya, orang Bumi Betuah memakai nada Melayu dalam membaca surat-surat Alquran, nada Melayu yang meliuk-liuk indah, memanjakan telinga bagai arus Sungai Batang Hari atau arus Sungai Musi di musim kemarau.
Selesai salat, pengantin didudukkan lagi di pelaminan. Semua yang hadir dipersilakan makan kembali. Sambil bersantap siang, pengantin dan semua yang hadir dihibur dengan tari-tarian adat, pidato-pidato tetua adat, mulai dari pidato yang penuh nasihat berat tentang ekonomi sosial, hingga pidato lucu tentang canda gurau malam pengantin.
Sampai pada waktu asar, semua yang hadir mendapat jeda! Sepasang pengantin diistirahatkan di dalam kamar, mereka salat Asar berdua saja. Para tamu disuguhi kue-kue, lalu boleh pulang untuk istirahat dan mandi, nanti kembali lagi satu jam kemudian untuk ngantat bunting tandang; yaitu membawa pengantin wanita ke rumah pengantin pria.
Sepasang pengantin diarak lagi dengan iringan musik rebana yang rancak, keliling kampung, mengabarkan bahwa di kampung itu ada pengantin baru, orang-orang yang tak diundang dapat turut melihat sepasang pengantin dari jendela rumah masing-masing hingga tiba di rumah pengantin pria. Jika tadi rombongan pengantin pria membawa ambinan berupa kasur, tikar, bantal, selimut, seperai, niru, bakul dan lemang gemuk, maka rombongan pengantin wanita membawa ambinan berupa peralatan dapur untuk memasak, lengkap dengan sangkalan batu yang masih baru, juga berbagai macam sayuran, daging, dan juadah untuk dimakan di rumah pengantin pria nanti.
Pertama-tama yang harus dilakukan oleh pengantin wanita setibanya di rumah suami adalah meletakkan kaki di tungku dingin yang menghitam hingga telapak kakinya terkena hangus. Selanjutnya, ia resmi bertugas sebagai istri, maka dengan baju pengantinnya yang indah ia menghangatkan tungku, membuat api, memasak nasi dan sayur untuk pertama kali. Hasil masakan itu akan dihidangkan di depan suami dan mertua serta anggota keluarga inti suaminya.
Hasil masakan itu nanti akan ditukar dengan gunil hibu; yaitu sepasang anting-anting emas yang lebar berbentuk roda pedati yang akan dipasangkan oleh ibu mertua ke telinga pengantin wanita. Itulah simbol diterimanya pengantin wanita di rumah pengantin pria. “Atas nama Tuhan, jadilah kalian sepasang suami istri yang setia satu sama lain hingga kedua tulang punggung kalian sama-sama membungkuk oleh kasih sayang.” Itu doa tulus sepasang tetua yang paling sepuh di Kampung Bumi Betuah.
Selesai upacara injak tungku dan pasang gunil hibu, semua yang hadir kembali makan, lalu pulang ke rumah masing-masing, bahkan rombongan pengantin wanita dan keluarganya juga pulang, hanya pengantin wanita  saja yang tinggal di rumah pengantin pria. Keesokan paginya sepasang pengantin kembali diarak ke rumah pengantin wanita, kali ini tanpa iringan musik rebana, yang mengantar hanya anggota keluarga saja. Sepasang pengantin tetap memakai busana pengantin, tapi tak lagi memakai riasan kepala, rambut sepasang pengantin sama terurai basah, hanya tertutup songkok dan kerudung, sehingga sepasang gunil emas lebar di telinga pengantin wanita tampak jelas menyita perhatian siapa pun yang melihatnya.
Di rumah pengantin wanita, sepasang pengantin kembali disambut, didudukkan di depan pelaminan. Yang hadir hanya keluarga besar sepasang pengantin saja, di sana semua kakak, adik, paman, bibi, pang cik, ndung cik, uwak, ninik, hingga puyang memberi ucapan selamat secara khusus dan doa-doa lagi. Selanjutnya mereka semua makan dan bersenda gurau hingga tiba waktu zuhur dan keluarga pengantin pria pamit pulang, hanya pengantin pria saja yang tinggal.
Sebelum pulang, semua anggota kelaurga pria mendapat cendera mata dari keluarga pengantin wanita. Orang-orang tua dapat tuku, semacam bakul kecil antik bermotif daun-daun pakis untuk wadah tembakau atau wadah sirih. Anak-anak perempuan dapat saputangan dan cermin kecil, anak-anak lelaki dapat handuk kecil dan sisir kecil merah yang bisa diselipkan di saku celana untuk curi-curi menyisir rambut yang berantakan saat sedang bertandang ke rumah anak gadis. Dari sinilah budaya dasar anak bujang Melayu Semende yang suka membawa sisir kecil di saku celana. Itu bukan sembarang sisir, itu sisir keramat, cendera mata pernikahan kakak mereka.
Setelah rombongan pengantin pria pulang membawa cendera mata, malam harinya para bapak dan ibu yang dijehumi dan semua balicade diundang ke rumah pengantin wanita. Para bapak dan ibu mengadakan susun tarah penutupan sekaligus pembubaran panitia. Para balicade atau anak-anak muda yang sudah cukup umur, tapi belum menikah, akan menutup upacara susun tarah dengan malam lempar selendang.
Para gadis didudukkan di sebelah utara, para bujang didudukkan di sebelah selatan. Para gadis dipimpin oleh pengantin wanita, para bujang dipimpin oleh pengantin pria. Acara lempar selendang dibuka dengan saling berbalas pantun antara rombongan bujang gadis. Kemudian pengantin wanita melepas selendangnya dan pengantin pria juga melepaskan selendangnya. Lagu Melayu dinyanyikan oleh pengantin wanita, sementara selendang dilemparkan dari satu gadis ke gadis lain. Gadis yang terkena lemparan selendang dan belum sempat melemparkannya lagi ketika pengantin wanita berhenti menyanyi, maka gadis tersebut dapat hukuman.
Hal yang sama juga berlaku untuk rombongan para bujang. Sepasang bujang gadis yang kena hukuman wajib maju ke tangah-tengah untuk saling memandang, saling mengagumi, saling berkenalan dan saling berbalas pantun, dengan harapan siapa tahu di antara keduanya tumbuh benih-benih cinta. Sebab di acara-acara malam lempar selendang inilah para bujang dan para gadis Kampung Bumi Betuah diberi wadah resmi untuk saling bekumpul dan berkenalan. Untuk selanjutnya mereka juga diharapkan segera mengikui jejak sang pengantin untuk melengkapi susun tarah.
Hanya saja, ada satu syarat yang tak dapat ditawar-tawar! Susun tarah hanya akan dilakukan bila calon pengantin wanita dan calon pengantin pria masih perawan dan perjaka, keduanya berkelakuan adat baik, tak banyak melakukan adat buruk, tidak melanggar salah satu dosa besar dan belum pernah melakukan tindak kriminal yang berurusan dengan polisi. Anak gadis atau anak bujang yang tak tahu adat dan melanggar banyak adat hanya akan dinikahkan di rumah adat selaso jatuh kembar dalam hitungan menit! Hanya ada ijab kabul, makan sederhana, dan pulang! Selesai perkara!
 
***
 
Bab 6;  Epilog
Kurman dan ibunya selesai membaca kitab perkawinan susun tarah.
Susun tarah-nya ribet, ya, Le?” kata Nyonya Adiguna.
Kurman tak menjawab, pikirannya bukan pada susun tarah atau banyaknya biaya, dia belum mendapat kelanjutan dari susun tarah itu. Nanti kalau sudah selesai menikah, pengantin pria datang ke rumah pengantin wanita, lalu setelah itu apa? Apa pengantin pria harus tinggal di rumah pengantin wanita selamanya?
“Ya! Pengantin pria harus tinggal di rumah pengantin wanita!” ujar ketua adat di rumah selaso jatuh kembar. “Kecuali jika pengantin wanita itu bukan tunggu tubang.”
“Apa itu tunggu tubang?” tanya Kurman.
Tunggu tubang adalah anak perempuan pertama atau anak perempuan satu-satunya dalam keluarga itu. Dan, Niar  adalah anak tunggu tubang! Dia dan suaminya akan tinggal di rumah itu untuk menjagai pusaka keluarga berupa orang tua, rumah adat, sawah adat dan ladang adat.”
“Tapi, saya juga punya orang tua yang harus saya jaga,” ujar Kurman.
“Kalau kau tak mau ikut istri, sebaiknya rencanamu untuk meminang Niar dibatalkan! Hanya itu pilihannya!”
Lalu ketua adat mengambilkan satu lagi kitab adat yang berjudul Tunggu Tubang. Berjam-jam ia membaca kitab itu hingga ia paham betul kenapa harus ada tunggu tubang dan kenapa suami harus ikut istri tinggal di rumah tunggu tubang.
Sejak Raden Kasian melepaskan semua atribut kebangsawanannya, maka sejak itulah Raden Kasian membentuk tunggu tubang. Semua anak lelaki boleh pergi merantau, meninggalkan rumah, menikah, dan membuat rumah sendiri, tapi anak perempuan pertama harus tetap tinggal di rumah untuk menjaga pusaka keluarga. Anak-anak perempuan kedua, ketiga dan seterusnya boleh ikut suaminya, tinggal di rumah suaminya, boleh merantau dan membuat rumah sendiri. Nantinya anak cucu dari anak-anak lelaki dan anak perempuan yang merantau itu akan pulang ke rumah kakek dan neneknya pada saat hari raya.
Jika kakek dan neneknya sudah wafat, mereka tetap bisa datang ke rumah kakek dan nenek yang ditempati oleh anak perempuan pertama penunggu rumah yang mereka panggil uwak atau endung tue. Anak perempuan pertama ini akan menjadi pengganti kakek dan nenek. Keluarga yang tidak menganut adat tunggu tubang akan kehilangan jejak leluhur pada genersi ketiga dan keempat.
Dalam kisah ini, sebagaimana yang terjadi dalam kisah nyata, Kurman sangat keberantan untuk menjadi suami dari seorang gadis tunggu tubang!
“Kenapa, Le? Kenapa? Apa salahnya jadi suami tunggu tubang?” tanya Nyonya Adiguna. “Ibu tidak keberatan.”
“Tidak Bu, kalau saya tetap menikah dengan Niar yang menjadi tunggu tubang, bagaimana nanti dengan Ibu? Siapa yang akan tinggal bersama Ibu? Siapa yang akan merawat Ibu? Siapa yang akan menemani Ibu menjalani hari tua?”
“Ibu masih kuat, Nak, Ibu masih bisa merawat diri sendiri, Ibu juga sedikit banyak punya tabungan uang untuk membayar pembantu.”
“Tidak Bu, rasanya sangat tidak adil bila saya harus tinggal di rumah istri dan merawat orang tua istri, sementara orang tua saya sendiri kapiran diurus pembantu! Adat tunggu tubang itu bagus untuk orang-orang keturunan Raden Kasian, tapi tak cocok dengan saya.”
Keesokan harinya, bahkan selama tujuh hari berturut-turut Niar dan keluarganya mendapatkan kiriman satu mug nasi putih dari Kurman. Artinya sudah jelas, keputusan telah dibuat. Kurman mengundurkan diri, merasa tak mampu menuruti apa yang tertulis dalam kitab adat Semende di rumah selaso jatuh kembar warisan agung Raden Kasian yang telah berumur lebih dari lima abad.
Niar berkirim surat dan bertanya, adat mana yang tak sanggup dipenuhi? Apakah tentang perbie? Tak sanggup sapi boleh kambing, tak sanggup kambing boleh ayam, lalu bagian mana adat yang memberatkan?
Kurman membalas surat itu dan menjawab, dia tak mau menikah dengan gadis tunggu tubang, tak mau ikut istri, tak mau tinggal di rumah mertua. Titik!
Tiga hari kemudian, datang surat tantangan dari Niar! Kurman gemetar membaca surat itu. Niar menantang dalam suratnya, kalau Kurman benar-benar laki-laki sejati dan sungguh-sungguh ingin menikah, Niar siap diajak kawin lari! Siap melanggar adat, meninggalkan Kampung Bumi Betuah!
 
***
Saat kisah ini saya tuliskan, Niar sudah tua, cucunya sudah lebih selusin.
Saya salah satu cucu itu.
Nenek buyut saya, Nyonya Adiguna, sudah lama tiada, demikian pula dengan puyang endung dan puyang bapang. Saya mengenal mereka sebatas nama dan gambar-gambar hitam putih dalam album foto yang diperlihatkan oleh Nenek Niar.
Pada sebuah petang di Kampung Bumi Betuah, berdua saya dan Nenek Niar duduk di beranda rumah panggung kayu meranti yang cokelat dimakan zaman. Saya sedang liburan ke Kampung Bumi Betuah.
Semenjak remaja, saya selalu penasaran bagaimana kisah cinta nenek saya yang bernama lengkap Juniar Wulandari itu. Bagaimana Nenek bisa bertemu dengan kakek saya yang tampan yang bernama Kurman Azlani Adiguna yang ternyata orang Jawa. Semula Nenek tak pernah mau cerita, baru setelah saya berjanji dan bilang untuk pembelajaran pada anak cucu, Nenek Niar mau bercerita secara utuh dan romantis.
“Lalu bagaimana ceritanya Nenek bisa menikah dengan Kakek dan tetap tinggal di Kampung Bumi Betuah hingga kini? Apakah Nenek dan Kakek jadi kawin lari?”
Nenek menggelengkan kepala sambil tersenyum malu mengenang masa mudanya yang sempat bergejolak. “Kawin lari itu urung terlaksana,” jawab Nenek. “Keburu ketahuan!”
Rupanya, Nyonya Adiguna ikut membaca surat tantangan Nenek untuk kawin lari, Nyonya Adiguna tak memberi restu! Diam-diam ia menemui bapang dan endung di rumah adat selaso jatuh kembar. Mereka berembuk dan bermusyawarah panjang.
Setelah dibaca-baca lagi dalam kitab adat, rupanya Kurman juga terhitung tunggu tubang di rumahnya. Sebab Nyonya Adiguna tak punya anak perempuan, maka tunggu tubang-nya adalah anak lelaki yang mau tinggal bersama ibunya. Jadi tunggu tubang menikah dengan tunggu tubang. Maka, para orang tualah yang mengalah. Niar dan Kurman dipertemukan, disidang di rumah adat, ditanya apa benar mereka rela kawin lari karena cinta? Kurman mengangguk, Niar diam saja sambil memelintir ujung baju kurungnya, itu tanda setuju secara simbolis pada masa itu.
Akhirnya mereka dinikahkan dengan meriah memakai susun tarah yang lengkap.
Selesai menikah, keputusan dibuat. Pasangan pengantin baru, Kurman dan Niar, tinggal di rumah pengantin wanita seminggu dan tinggal di rumah pengantin pria seminggu berikutnya, begitu terus selang-seling, hingga orang tua masing-masing di panggil kembali untuk menghadap Sang Pencipta.
Kini di hari tuanya, Niar dan Kurman tinggal di rumah adat milik keluarga Niar, rumah Kurman ditempati oleh Bude Yetie, anak perempuan kedua mereka. Anak perempuan pertamanya bernama Umihaya, saya panggil Endung Tue, dia yang sekarang jadi tunggu tubang di rumah ini. Niar dan Kurman punya tujuh anak. Saya sendiri cucu dari anak nomor empat, anak lelaki yang bernama Slamet Adiguna yang jadi pedagang beras di Pasar Kranggan Yogyakarta.
Petang itu, setelah Nenek Niar selesai menceritakan susun tarah dan kisah cintanya, Kakek Kurman yang sudah penuh uban tapi tetap tampan, menghampiri kami. “Awas, ya, cerita susun tarah-nya enggak boleh ditambah-tambahi yang aneh-aneh!”
“Beres, Mbah Kakung!” jawab saya, sambil melipat laptop. (Tamat)
 
***
 
Pago Hardian
Pemenang I Sayembara Cerber Femina 2016


Topic

#FiksiFemina

 


MORE ARTICLE
polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?