Fiction
Gado-gado: Khawatir

3 Nov 2018


Foto: Freepik

Di keluargaku, Ayah terkenal sebagai sosok yang terlalu khawatir. Akibat rasa khawatir yang berlebihan, mungkin cenderung waswas, banyak peralatan atau perabot di rumah yang jadi rusak karena ulahnya. Bagaimana bisa?
 
Ini kelakuan beliau yang khas. Tiap kali kami sekeluarga akan bepergian dan sudah siap berangkat, kami pasti harus menunggu lama karena Ayah masih sibuk memeriksa keadaan di dalam rumah. Mengecek lampu, air, listrik, dan seterusnya. Padahal, sudah dicek sebelumnya Saat tidur malam juga begitu.
 
Ayah pasti orang terakhir yang tidur karena dia sibuk mengecek ini dan itu. Karena penasaran ingin tahu sebenarnya apa saja yang dilakukan Ayah saat akan bepergian atau tidur, saya pun melakukan pengintaian.
 
Ternyata oh ternyata, apa yang beliau lakukan itu sungguh mengherankan. Misalnya, bolak-balik memutar tombol menghidupkan dan mematikan kompor gas untuk memastikan bahwa tombol kompor gas benar-benar sudah mati. Akhirnya, aku tahu mengapa tombol kompor gas di rumah sering rewel, ternyata aus karena sering dimainkan tombolnya.
 
Stop kontak lampu juga sering rusak. Kasusnya sama dengan kompor gas. Ayah terus-menerus menghidupkan dan mematikan lampu untuk memastikan bahwa lampu-lampu di ruangan benar-benar dalam keadaan mati saat ditinggakan atau saat kami akan tidur.
 
Terakhir, Ayah akan memeriksa pintu-pintu penting, misalnya pintu kamar mandi, dapur, kamar tidur, dan ruang tamu. Walaupun pintu sudah terkunci dan rencengan kunci sudah di tangan, Ayah akan kembali mencoba membuka pintu berkali-kali untuk memastikan bahwa pintu-pintu tersebut benar-benar sudah terkunci rapat. Pantesan pegangan pintu sering lepas dari engselnya.
 
Saat sudah berkeluarga, aku dan keluarga tinggal di rumah sendiri. Dan di pagi hari itu, seperti biasa, aku mengunci pintu rumah setelah anak-anak berangkat ke sekolah. Tapi tumben, kok, susah sekali mengunci pintu rumah. Kucoba terus, tetap tidak berhasil. Kupanggil suamiku untuk membantu, tetap tak bisa.
 
Akhirnya, dengan terpaksa suami merusak lubang kunci. Saat aku dan suami bergegas berangkat kerja, kesiangan akibat insiden kunci rumah, tetangga depan rumah menyapaku.
 
“Mbak Lin, kemarin bapak Mbak datang berkunjung, ya? Bapak Mbak Lin itu lucu, ya? Kalau sudah mengunci pintu rumah dan sudah keluar dari rumah, selalu kembali lagi untuk memeriksa pintu. Mungkin khawatir belum terkunci, ya, Saya perhatikan selalu begitu,” katanya, sambil tersenyum.
 
Oh, la.. la.. la… kebiasaan Ayah ternyata sudah merembet ke rumahku. Pantesan kuncinya macet.
 
“Iya, Mbak. Ayah terlalu khawatir,” kataku pendek, menghindari pertanyaan yang lebih panjang dari tetanggaku itu.
 
Di perjalanan ke kantor, aku jadi tertawa geli. Memang, ayah dan ibuku juga punya kunci pintu rumah kami , agar mereka bisa dengan leluasa datang berkunjung. Aku tak menyadari bahwa itu artinya bisa menularkan kebiasaan Ayah ke rumahku juga.

Sampai sekarang, Ayah tidak berubah dan tidak menyadari akibat dari kebiasaan uniknya itu. Kami enggak pernah membahas itu, sih, demi menghormati beliau, hahaha…. (f)
 
***
Linda Mustika Hartiwi - Banyuwangi
 
Kirimkan Gado-Gado Anda maksimal tulisan sepanjang tiga halaman folio, ketik 2 spasi.
Nama tokoh dan tempat kejadian boleh fiktif.
Kirim melalui e-mail: kontak@femina.co.id atau pos, tuliskan di kiri atas amplop: Gado-Gado



Topic

#gadogado, #fiksifemina

 

polling
Pertimbangan Dalam Memilih Kartu Kredit

Belakangan ini bank makin kreatif dan gencar dalam meluncurkan kartu kredit. Mereka pun bersaing memberikan berbagai fasilitas untuk menggaet pengguna baru.