Fiction
Cerpen: Pangir

13 Aug 2017

 

Rizky Siregar
 
Unggulan Sayembara Cerpen 2016
 
Sudah seminggu ini, Mamak menetap di rumah Suri yang terletak di pinggiran kota Jakarta. Datang jauh-jauh dari Kota Asahan, Sumatera Utara. Selama tujuh hari itu pula, perempuan yang melahirkan Suri itu mengabaikannya. Kalau diajak berbincang-bincang, singkat-singkat saja jawaban sang ibunda: Ya, Tidak, atau Bisa jadi. Persis peserta kuis di salah satu stasiun televisi.

Pagi-pagi begini, biasanya Suri menengok Mamak di kamar dan mengajak ibunya itu sarapan. Namun, hari ini berbeda. Pasalnya, Mamak sudah menghampirinya di dapur sewaktu Suri baru saja selesai memasak Nasi Goreng.

“Mamak mau teh atau kopi?” Suri memancing dengan pertanyaan yang tidak bisa dijawab hanya dengan tiga kata andalan ibunya selama ini.

Yang ditanya diam saja. Tapi, kemudian tangan ibunya menunjuk stoples berisi teh. Dengan sigap, Suri siapkan permintaannya. Bubuk tehnya lebih banyak dan tanpa gula karena Mamak penyuka teh yang kental.

“Suri....”

Mamak mulai bersuara. Ia senang karena akhirnya Mamak mengakhiri aksi tutup mulut tersebut. Akan tetapi, ada kekhawatiran yang menyeruak di hati. Takut jika Mamak menceramahinya tentang keputusan yang ia lakukan akhir-akhir ini.

Tapi ternyata, Mamak hanya berkata, “Beberapa hari lagi sudah masuk bulan puasa. Kau siapkanlah pangir!”
 
Permintaan Mamak tadi pagi mengantarkan ingatan Suri kepada masa kecil. Seminggu sebelum Ramadan, ibunya sudah sibuk bersiap. Salah satu yang tidak pernah dilupakan adalah pangir, yaitu bahan berupa daun, rempah, dan bunga-bunga wangi. Nantinya, pangir ini akan direbus dengan air yang digunakan untuk mandi tepat sehari sebelum kita berpuasa, biasanya di sore hari.

Tiba-tiba, telepon genggam yang terletak di meja kerja Suri berbunyi. Setelah berbasa-basi menanyakan kabar satu sama lain dengan Kak Arta, Suri pun menceritakan bahwa Mamak sudah mau mengajaknya berbicara.

“Jadi, kau belum dimarahi? Mamak cuma minta pangir?”

Ada nada heran dari kalimat itu. Ia mengangguk. Namun, akhirnya menyahut, “Iya,” karena menyadari Kak Arta tidak bisa melihat anggukan itu.

“Padahal, waktu pertama kali mendengar berita tentang kau itu, merepet terus tak berhenti.”
 
Nah, berita yang disinggung-singgung kakaknya itulah yang membuat Suri berdebar setiap berada di dekat Mamak.

Menurut Kak Arta, sehabis mengabarkan berita itu, Mamak bersikeras terbang ke Jakarta demi menemui Suri langsung. Jadi, ia takut kalau Mamak murka di hadapannya. Ia tidak akan mampu menyaksikan kekecewaan di wajahnya.

“Dia bagaimana, Suri? Sudah kau pertemukan?”
 
Suri menggeleng. Sebaik Kak Arta memberitahukan kedatangan Mamak, ia mengungsikan orang yang dimaksud kakaknya itu. Jangan sampai Mamak bertemu dengannya. Tidak sampai sang ibunda mendapat penjelasan dan menerima kehadirannya.

Terdengar helaan napas di seberang sana. Kakaknya itu berpesan, “Ikuti saja apa katanya, Suri. Jangan kau bikin dia marah, ya?” seraya mengakhiri telepon.

Suri setuju. Jika menuruti keinginan Mamak, siapa tahu hati ibunya itu melunak? Tidak kecewa meskipun telah mengetahui rahasianya. Tidak marah-marah. Pada saat itulah, ia baru bisa mengenalkan obyek berita kepada Mamak dan berharap akan disambut dengan baik oleh ibunya.

Jadi, kalau Mamak minta dibelikan pangir, itulah yang akan Suri lakukan. Gadis itu baru akan mengecek lokasi pembelian pangir di internet. Namun, terganggu dengan dokumen yang jatuh. Ada logo sebuah rumah sakit di sampulnya dengan secarik kertas pesan yang tertempel. Peringatan untuk mendatangi rumah sakit tersebut sesuai janji yang tertera. Ia simpan dokumen yang ia rasa tidak begitu penting tersebut ke dalam tasnya.
 
Tiba-tiba, pintu ruang kerja Suri terbuka. Sekretarisnya ada di sana menggandeng seorang anak perempuan enam tahun yang bermata bulat sempurna. “Ibu Suri, maaf, ya. Tapi, sepulang sekolah tadi Tisha memaksa ke sini. Nggak mau ke rumah saya. Katanya mau ke rumahnya sendiri. Katanya kangen sekali dengan Ibu.”

Selanjutnya, klik laman berikutnya.
 


Topic

#fiksifemina