Fiction
Cerpen: Menghidu Warna

20 Mar 2017


 
Aku selalu suka masuk dari belakang restoran cepat saji tempatku bekerja, sebab di sana ada boks besar yang selalu penuh dengan sampah. Bagiku, jika ada bau sampah di situ, selalu ada ledakan warna pelangi yang berloncatan ke sana kemari, saling bertubrukan, dan memancar ke semua arah. Seakan merayakan bau busuk sampah makanan cepat saji yang tak pernah surut.
            Saat aku menutup pintu, ledakan warna itu langsung senyap, berganti warna layar abu-abu yang transparan dengan polkadot hijau terang melayang-layang. Aroma saus tomat bercampur mayones mengadangku. Belum selesai pertunjukan warna itu usai, garis-garis magenta mendesing seperti anak panah, menembus layar abu-abu transparan itu. Seseorang sedang memasukkan potongan kentang ke dalam minyak yang panas. Sesaat aku terbawa dalam warna dan aroma yang bersilangan di penglihatanku. Sampai balok-balok berwarna kuning butek menghalau semua warna itu. Ah, parfum apel tajam itu selalu membuatku mual. Sebentar lagi si Vina yang cerewet itu akan muncul.
            “Kamu sudah datang?” tanyanya dengan suara yang melengking. Matanya yang hitam kecokelatan berbinar-binar, sementara bibirnya yang tipis itu selalu membentuk ancang-ancang untuk menyemburkan kata-kata. Dia menyodorkan kotak bekalnya. Matanya melebar.
            “Tebak!”
            Bahuku menurun. Selalu saja permainan yang sama. Dia buru-buru menggeleng.
            “Jika kamu bisa menebak kali ini, kotak bekal ini untukmu.”
            Sebenarnya dia selalu berkata hal yang sama berulang-ulang dan aku selalu berhasil membawa semua kotak bekalnya. Permasalahannya, rasa makanan di dalam kotak bekal itu selalu memaksaku menyelipkannya di bagian terdalam boks sampah di belakang.
            “Ayolah, kotak ini tidak akan menggigitmu.”
            Memang kotak itu tidak bisa menggigit, namun rasa makanan di dalamnya bisa menendang perutku habis-habisan.
            “Liris, ayolah. Kamu selalu suka permainan ini,” desaknya.
           Aku menyerah. Aku mulai menghidu aroma kotak bekal itu. Dari dalam bekal itu keluar serpihan lembut berwarna emas, sulur-sulur biru laut, layar abu-abu transparan, dan polkadot hijau. Wortel, tepung, saus, dan mayones.
            “Kamu buat burger wortel lagi?” selidikku.
            Matanya surut dan bibirnya melengkung. Dia menghela napas panjang dan menyerahkan kotak bekal itu padaku.
            “Dasar tukang sihir!” katanya.
          Dia meraih jaket yang tersampir di gantungan baju, lalu memakainya. Tak lama kemudian pintu di belakangku tertutup dengan keras. Aku tahu dia tidak marah padaku. Dia hanya kesal, sebab tawaran menú barunya lagi-lagi ditolak Pak Manajer. Ini restoran cepat saji. Semua orang datang karena daging panggang dan kentang goreng. Burger wortel hanya cocok untuk restoran vegetarian. Seharusnya dia bersyukur Pak Manajer masih mau menempatkannya di belakang meja kasir. Sejujurnya dia lebih cocok berdiri di sana daripada memegang spatula. Dia memberikan kotak makanan padaku, sebab dia tahu aku pasti bisa menebak isi di dalamnya sehingga dia bisa menyerahkan kegagalannya untuk kubuang ke tempat sampah.
Vina lebih suka menganggapku penyihir, meski aku sudah menjelaskannya berkali-kali. Aku sudah putus asa membuat orang-orang di sekitarku percaya bahwa aku bisa melihat warna aroma sejak ibuku menghardikku di ulang tahunku yang ketujuh belas hanya gara-gara aku berkata roti donat cokelat dengan lilin pada bagian yang bolong itu berwarna seperti senja. Ibu mengira aku sakit hati sebab Ibu tidak membelikanku roti tart dengan hiasan stroberi.
            “Berhentilah berhalusinasi. Kamu sudah besar, tidak pantas punya khayalan aneh-aneh.“
            Hanya satu orang yang mengerti kondisiku dan percaya aku tidak berhalusinasi. Dia akan datang selepas jam kerjaku berakhir nanti sore. Hanya dengan memikirkannya aku langsung melihat bercak-bercak putih di sekitarku, seperti saat gerimis pertama mengetuk kaca jendela. Hanya saja warnanya putih susu dan mengetuk kurva berwarna oranye. Itu warna bau tubuhku yang berbaur dengan parfum mawar lembut yang kupakai,  makin menajam saat aku gelisah.
 
            DIA DATANG TEPAT saat aku membuka keran es krim rasa cokelat ke dalam cone. Semburat-semburat jingga mengikuti alur es krim yang mengerucut. Aku melambai padanya dan dia membalasnya. Dia memesan burger king size dan segelas coke jumbo. Pesanan yang selalu sama. Tubuhnya agak lebih gemuk daripada saat pertama kali kami berjumpa. Makanan sampah ini penyebabnya. Untungnya, dia dulu kurus. Beratnya sekarang mungkin lebih pas.
            “Aku punya sesuatu untukmu,” katanya, saat aku mengantarkan pesanannya.
            “Satu jam lagi,” kataku.
            Dia mengangguk sambil mengacungkan jempol. Aku berbalik dan menemukan noda-noda cardinal tidak beraturan bergerak seperti ubur-ubur. Semacam merah jambu yang mendekati merah dan terang. Dia berbau pot tanah yang terkena air hujan semalaman. Cardinal. Tiga bulan lalu aku masih menemukan serabut-serabut peach yang saling menjalin di antara cardinal, namun sekarang tidak ada lagi. Aku sadar bau kayu manis yang berwarna peach itu pasti milik orang lain yang menempel di tubuhnya. Seorang yang dekat dan kini menghilang. Tepat seperti dugaanku, tiga bulan yang lalu dia mengaku putus dari pacarnya, sebab dia menyadari telah jatuh cinta kepada orang lain, seseorang yang bisa mengisi jiwanya. Setelahnya warna cardinal itu sesekali diliputi warna lengkung oranye tepat sesuai parfum yang selalu kupakai. Aroma mawar yang lembut.     
           Aku mengenalnya enam bulan lalu yang lalu. Waktu itu Vina menyeretku di depan toilet restoran. Dia mendesakku untuk mengatakan apa rahasianya, kenapa aku selalu bisa menebak masakannya. Aku mengatakan sejujurnya bahwa aku bisa melihat warna aroma. Dia tertawa dan menyebutku penyihir. Kujelaskan mati-matian bahwa dia dikelilingi balok-balok berwarna kuning butek (yang kemudian kutahu berwarna peru) sebab dia memakai parfum apel. Vina tetap tidak percaya dan saat itu pintu toilet laki-laki terbuka. Dia memandangku tanpa kedip lalu langsung memegang tanganku, ”Mbak, kamu jawaban saya selama ini.”
            Awalnya aku hanya menganggapnya laki-laki berengsek yang hanya mau main-main sampai dia menatapku dalam-dalam sambil berkata,”Mbak, kemungkinan kamu memiliki synesthesia.” Lalu dia mengenalkan dirinya sebagai Gun, mahasiswa psikologi akhir yang sedang sibuk mencari judul skripsi.
            “Synesthesia bukan penyakit, itu sebuah kondisi pancaindra saling bersilangan sehingga persepsi terhadap hal-hal yang berhubungan dengan pancaindra berbeda dengan orang normal. Pada kasus-kasus umum ada pemilik synesthesia yang bisa merasakan kata. Misalnya, saat dia mendengar kata penjara, seketika lidahnya merasakan   roti tawar yang dibiarkan kering. Kata kuliah rasanya seperti sosis bakar. Ada juga yang bisa melihat warna dalam nada musik. Kasus Mbak termasuk langka, sebab bisa melihat warna dalam aroma. Meski harus dibuktikan dulu.”
            Gun berencana mengetes kondisi yang kualami ini sekaligus memakaiku sebagai sample dalam skripsi yang akan diangkatnya. Aku pun mengangguk setuju. Sejak saat itu Gun selalu menungguku pulang kerja dan kami berjalan dari restoran menuju kamar kosku yang terletak di bantaran Sungai Ciliwung. Aku harus mendeskripsikan apa yang kulihat  tiap aku mencium aroma tertentu dan dia mencatatnya. Dia membawa daftar warna yang sangat panjang sehingga aku bisa menunjuk warna yang lebih spesifik.
            “Ada tembok pelangi yang memancar dari sepanjang Sungai Ciliwung.”
            “Karena berbau busuk?” tanyanya.
            “Betul. Lalu jika kita berjalan di gang sempit ini ada warna teracotta berbentuk seperti asap  tiap tanggal tua.”
            “Kenapa?”
            “Sebab pemilik rumah itu selalu memasang koyo di keningnya  tiap tanggal tua. Mungkin dia pusing karena tidak punya uang.”
            “Penciumanmu sangat sensitif. Aku bahkan hanya bisa membaui aroma selokan yang busuk dan tidak mencium bau koyo.”
            Selama sebulan dia mengajakku berjalan dengan rute yang berbeda hingga akhirnya dia berhenti dan menyuruhku menunggu seminggu lagi untuk tes berikutnya. Dia bilang pemilik synesthesia selalu menyebutkan hal-hal yang konsisten sehingga dia perlu memberi jeda dan mengetes ulang untuk membuktikan apakah yang kulihat dalam aroma itu benar-benar konsisten. Seminggu kemudian dia muncul dan membawaku ke rute-rute baru, bahkan di akhir pekan dia sengaja membawaku ke pantai untuk menghidu bau pasir, laut, dan matahari. Obrolan kami tak lagi semata-mata tentang aroma dan warna. Dan, aku berhenti melihatnya sebagai mahasiswa yang sedang membuat skripsi. Aku melihatnya sebagai laki-laki.
            Aku menggerutu dalam hati. Satu jam terasa begitu panjang dan canggung. Mataku selalu tak tahan untuk tidak melihatnya. Dia makan dengan lambat sambil sesekali melirikku. Jika tatapan kami bertubrukan, dia tersenyum seperti anak kecil yang ketahuan mengompol. Hari ini mungkin adalah hari terakhir kami bisa pergi ke suatu tempat demi melihat aroma. Dia sudah pendadaran tiga hari yang lalu. Jadi tidak ada alasan lagi untuk bisa bertemu lebih sering. Setelah ini dia mungkin akan sibuk mencari pekerjaan, uang, bahkan istri. Dia pernah berkata lebih menyukai wanita yang lebih matang. Usiaku hampir 30 dan kupikir usia ini adalah usia matang untuk wanita, bukan? Apalagi aroma mawar lembut itu selalu mengitarinya. Aromaku yang berwarna oranye.
            “Kamus Liris?” tanyaku. Dia menyodorkan sebuah buku tebal dengan sampul cokelat kardus saat jam kerjaku usai dan kami berdua duduk di teras restoran.
            “Sebetulnya itu catatanku selama meneliti kamu. Kupikir kamu berhak memilikinya,” katanya (dia sudah berhenti memanggilku ‘Mbak’ sejak tiga bulan yang lalu). Aku membuka buku berjudul Kamus Liris itu dan menemukan foto-foto yang dilengkapi dengan keterangan dan warna. Ada fotoku berdiri di dekat Sungai Ciliwung lalu ada keterangan: ‘Aroma Ciliwung berwarna tembok pelangi’. Foto jariku yang berdarah dengan keterangan ‘Bau darah adalah violet’. Dia memfotonya saat kami piknik di Dufan. Aku mencoba mengupas apel tanpa putus, tapi jariku justru terkena pisau. Aku ingat dia mengataiku tukang pamer yang gagal. Senyumku melengkung. Kamus Liris ini sangat indah. Aku membuka bagian belakang dan tertegun. Ada gambar hati berwarna merah muda tanpa keterangan.
            “Apa maksudnya?” tanyaku.
            “Aku ingin tahu apakah cinta berbau dan jika benar apakah warnanya merah jambu seperti yang orang-orang katakan.”
            Aku tertawa,”Cinta tidak berbau.”
            “Kamu harus mencarinya untukku. Aku sangat ingin tahu.”
            Aku menatap wajahnya dalam-dalam.
            “Kamu jatuh cinta?”
            Dia membuang muka sambil tersenyum malu-malu. Warna-warna cardinal  makin banyak bermunculan.
            “Dia yang membuatku memutuskan mantan pacarku. Dia adalah alasan mengapa aku harus tahu apa warna cinta yang sejati.”
            Dia meneguk coke-nya lalu aku bisa mendengar suara es batu yang digigit.
            “Cinta yang sulit. Dia lebih tua dariku,” katanya.
Dadaku berdegup kencang. Tetes-tetes putih susu berjatuhan seperti hujan. Apakah dia adalah aku? Aku masih sibuk dengan debaran jantungku saat seseorang menyapanya.
            “Gun, kamu sudah lama di sini?”
            Aku memandangnya. Di samping Gun seorang wanita berumur empat puluhan dengan pakaian yang sangat berkelas berdiri dengan anggun. Kaus v-neck dan celana pensil yang dipadu jas tipis membalut tubuhnya yang berisi. Dia memakai parfum mawar yang lembut. Kurva-kurva oranye menaunginya.
            “Belum lama, aku tadi ngobrol dulu dengan Liris.”
            “Ah, jadi ini yang namanya Liris. Terima kasih, kamu sangat membantu skripsi Gun.” Dia menjabat tanganku dengan hangat. Apakah Gun serius dengan perasaannya sehingga membawa ibunya kemari? Apakah dia akan menyatakan perasaannya? Aduh, aku belum siap. Apalagi ada ibunya di sini.
            “Sebentar, aku memesan burger dulu.” Dia masuk ke dalam restoran. Gun memandangku dengan berbinar,”Apakah dia berwarna oranye?” tanyanya. Aku mengangguk. Aroma mawar yang lembut adalah oranye. Aromaku. Aromanya.
            “Apakah kamu melihat warna lain di antara kami?”
            “Maksudmu?”
            “Warna cinta.”
          Seakan ada seseorang yang menusukku dari belakang hingga seluruh tubuhku menjadi lumpuh seketika.
            “Kamu melihatnya?”
           Aku menggeleng lemah. Gun melihat ke dalam restoran. Wanita itu melambai kepadanya. Dia memesan banyak dan butuh bantuan. Gun masuk ke dalam restoran. Aku mengambil seluruh barangku dan berjalan menjauh. Ingin kukatakan kepadanya, aku tidak bisa melihat warna cinta. Namun, aku bisa melihat warna patah hati. Warnanya biru gelap mendekati hitam hingga aku tidak bisa melihat apa-apa. Sebab, warna patah hati itu seperti aroma air mata. (f)    

Tentang Penulis:

Ruwi Meita (36), Ponorogo
Pemenang III Sayembara Cerpen Femina 2016


Setelah menjadi Pemenang III Sayembara Cerpen Femina 2014 dengan cerpen Pemutar Aroma, Ruwi Meita kembali menyisihkan finalis lainnya.

Menghidu Warna berkisah tentang sang tokoh yang mampu melihat warna cinta dirajut dengan momen patah hati. Cerpen ini menonjol berkat tema yang jarang diulik dan deskripsinya yang memikat. Awalnya, tahun ini ia tidak mau ikut sayembara fiksi femina. “Namun, ternyata ada perpanjangan tenggat, jadi, deh, saya ikut,” ia mengisahkan sambil tertawa.

Sebagai penulis yang karyanya terbilang sering muncul di femina, ia mengaku sebetulnya jarang mendapati ide yang pas dengan karakter fiksi femina. Bahkan, ide awal tentang synesthesia ini disiapkan untuk novel thriller.

 “Tapi, tiba-tiba muncul ide untuk menambahkan elemen cinta dan sedikit sentuhan komedi, langsung, deh, saya olah agar tidak lupa. Saya membaca banyak buku dan menonton film dokumenter tentang synesthesia untuk memperkaya imajinasi.” Riset mendalam selalu jadi andalannya dalam membangun cerita yang kaya detail.

Di dunia penulisan, nama Ruwi lebih dikenal sebagai penulis novel bergenre thriller. Novel-novelnya yang telah beredar di pasaran umumnya mengangkat tema detektif, horor, dan  misteri. Bahkan, saat ini, ia sedang menggarap sebuah novel adaptasi film horor. Hingga kini, Ruwi terus produktif menulis fiksi di tengah kesibukannya mengurus keluarga. Ia tinggal di Ponorogo bersama suami dan kedua anaknya. (RW)
 
Cek koleksi fiksi femina lainnya di:
http://www.femina.co.id/fiction/
 
 
 
 


Topic

#FiksiFemina