Family
Benarkah Generasi Z Adalah Generasi Kesepian?

6 Nov 2018


Foto: Shutterstock
 
Penelitian perusahaan layanan kesehatan Cigna di Amerika Serikat (dirilis Mei 2018) menemukan bahwa gen Z masuk dalam generasi paling kesepian. Dalam penelitian terhadap lebih dari 20.000 responden dari berbagai generasi, ditemukan bahwa 48% gen Z memiliki skor indeks kesepian yang paling tinggi dibanding generasi-generasi lainnya.
 
Gen Z, menurut McCrindle Research Center, adalah mereka yang lahir setelah tahun 1995 sampai 2009. Generasi ini adalah mereka yang kini berusia 9 sampai 23 tahun. Lebih dari setengah responden gen Z mengalami 10 dari 11 tanda-tanda kesepian (menggunakan skala indeks kesepian dari Universitas of California, Los Angeles). Di antaranya adalah merasa orang-orang yang berada di sekitar mereka tak benar-benar ada (69%), merasa malu (69%), dan merasa bahwa tak ada yang bisa memahami mereka dengan baik (68%).
 
Chief Medical Officer Cigna, dr. Doug Nemecek, mengungkapkan, kesepian yang dialami anak-anak muda Amerika Serikat ini sudah pada kadar yang mengkhawatirkan, bahkan disebutkan sudah masuk dalam tahap epidemik karena bahayanya yang dapat mengancam kesehatan jiwa. Ini membuat masalah kesepian sebagai salah satu isu utama yang sedang ditangani oleh
lembaga kesehatan nasional di AS.
 
Gen Z adalah digital native, lahir ketika teknologi sudah eksis dalam kehidupan mereka sehari-hari. Walau generasi milenial juga merasakan tahap awal revolusi digital, gen Z adalah generasi pertama dengan DNA digital yang seutuhnya. Mereka adalah generasi yang sudah pandai menggunakan layar sentuh, bahkan sebelum mereka bisa berjalan tegak.
 
Teknologi, internet, dan media sosial adalah segalanya bagi mereka. Dengan satu ketukan di layar sentuh, gen Z dapat terhubung dengan siapa pun dan menyerap informasi apa pun yang mereka inginkan. Komunikasi suara dan tatap muka pun mudah terjalin hanya dengan satu perangkat yang ada di genggaman. Hanya, kemudahan-kemudahan ini tak lantas menjadi keuntungan. Karena ternyata, tersimpan tantangan berat yang justru harus diemban gen Z.
 
Connected to disconnected. Kalimat ini muncul untuk menggambarkan fenomena ketika seseorang sangat mudah terhubung dengan bantuan teknologi, namun tidak benar-benar merasakan komunikasi yang nyata. Dengan kata lain: mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat.
 
Pada penelitian Cigna memang tak ditemukan korelasi antara internet dan media sosial dengan perasaan kesepian. Namun, hal ini dijawab oleh hasil penelitian University of Pittsburgh School of Medicine (UPSM). Penelitian tersebut menemukan bahwa meningkatnya perasaan kesepian di abad ke-21 hingga 2 kali lipat ini erat kaitannya dengan era digitalisasi. Media sosial membuat kita merasa lebih terisolasi dan generasi muda memiliki teman dekat yang makin sedikit.
 
“Secara alamiah manusia adalah makhluk sosial. Namun, di kehidupan modern ini kita cenderung dikotak-kotakkan daripada disatukan. Manusia menjadi seperti berada di dalam ruangan maya yang membuat mereka tak bisa bersosialisasi dengan nyata. Meskipun media sosial tampak seperti dapat menghubungkan manusia, nyatanya justru tak menjadi solusi komunikasi yang tepat,” papar Dr. Brian A. Primack, kepala peneliti UPSM.
 
Generasi Z (gen Z) didapuk menjadi generasi kesepian. Kemajuan teknologi pun menjadi kambing hitam fenomena ini. Dengan koneksi digital yang makin menggantikan interaksi tatap muka, membuat kesepian makin mudah tersebar seperti virus.
 
Gen Z seperti mendapatkan tantangan ganda. Di dunia online seperti di media sosial, mereka dituntut untuk tampil sempurna. Sementara di dunia offline, mereka kesulitan menjalin hubungan karena lebih terbiasa berkomunikasi di dunia maya yang instan dan tidak intim. (f)

Baca Juga:

Tak Perlu Tersinggung, Begini Kira-kira Gambaran Khas Orang Indonesia Zaman Now
Ketika Gender Makin Fleksibel
Kasus Penculikan Anak di Tangerang Selatan Ternyata Hoax. Begini Cara Cek Berita Hoax.


Citra Narada Putri


Topic

#family, #genz, #trendingtopic

 

polling
Pertimbangan Dalam Memilih Kartu Kredit

Belakangan ini bank makin kreatif dan gencar dalam meluncurkan kartu kredit. Mereka pun bersaing memberikan berbagai fasilitas untuk menggaet pengguna baru.